Puasa Mampu Kendalikan Hawa Nafsu

Ramzy
Ramzy 445 Pembaca
8 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Salah satu peperangan terbesar yang dihadapi manusia adalah perang melawan hawa nafsu. Perang terhadap hawa nafsu tidak dapat dikendalikan dengan salat, dengan zakat, dengan zikir, namun bisa ditaklukkan dengan “shaum” atau “shiyam”, puasa.

“Kita bisa berada di dalam satu kamar dengan istri pada siang hari bulan Ramadan, namun dengan sedang melaksanakan ibadah puasa kita mampu mengendalikan hawa nafsu,” Ir.H.Ilah Muhammad, S.Ag. Memberi contoh saat membawakan hikmah halal bihalal yang digelar Kerukunan Masyarakat Bima Sulawesi Selatan (KMBS) Nusa Tenggara Barat di Hotel Swiss Bellin Panakkukang Makassar, Ahad (19/4/2026).

Halal bihalal yang biasanya dilaksanakan tidak di hotel berbintang ini dihadiri sekitar 400 orang Bima yang berdomisili di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, misalnya, Makassar, Gowa, Maros, Takalar, Pangkep, Barru, Bone, Palopo, dan beberapa daerah lainnya.

Acara yang sarat dengan nuansa relegius ini, antara lain diisi dengan salawat yang dilaksanakan mantan Qariah Sulawesi Selatan Hj.Umrah M.Saleh dan kelompoknya, penyajian tari empat etnis dan monolog terjemahan puisi yang ditampilkan Laskar Seni pimpinan Drs. Bukhari Ahmad yang sekaligus membacakan monolog pembacaan terjemahan ayat Alquran. Hj Umrah M.Saleh membacakan Kalam Ilahi mengawali acara, kemudian juga melantunkan ayat-ayat Kitabullah berbarengan dengan lima qari dan qariah didikannya, yakn Nurjannah S.Pd.I, Sri Yanti, S.Pd.I, Tasrif, M.Pd., Arif Ramadhan, S.Pd., dan Ulil Amri, S.Ag. Lima orang pembaca Alquran ini merupakan warga Bima yang telah mewakili beberapa daerah di Sulsel pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Sulawesi Selatan di Kabupaten Maros yang baru berakhir beberapa hari lalu.

“Salah seorang di antara mereka ini mewakili Sulawesi Selatan pada MTQ Nasional di Semarang,” ujar Hj Umrah M.Saleh yang termasuk salah seorang pemgajar mengaji di Masjid Raya Makassar dan beberapa tempat lainnya di Kota Makassar.

Baca juga :  Nyaris Diamuk Massa, Dua Begal Ditangkap Prajurit Kodam XIV/Hasanuddin di Tengah Kota Makassar

[caption id="attachment_96205" align="alignnone" width="300"] Foto bersama warga Bima yang berhalal bihalal. (Foto: Panitia KMBS).[/caption]

Ketua Panitia Pelaksana Halal bihalal Dr.H.Husen Sarujin, M.Pd., M.M., M.H. dalam laporannya mengemukakan, pelaksanaan halal bihalal di hotel ini bisa terlaksana atas dukungan dan bantuan dari warga Bima yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan.

“Sumbangan yang diberikan itu melebihi yang diperlukan dalam pelaksanakan kegiatan ini,” ujar Dr.Husen Sarujdin sembari menyebut angka sumbangan warga Bima tersebut.

Ikut memberikan sambutan mantan Ketua KMBS NTB Drs.H.Sirajuddin, M.M.yang antara lain mengemukakan, pelaksanaan halal bihalal merupakan wujud warga Bima di Sulawesi Selatan menjalin silaturahim setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan selama sebulan.

Ketua KMBS NTB Dr. Ibrahim Ahmad, S.E,, M..Si, Ak. CA mengemukakan kisah awalnya pelaksanakan kegiiatan ini yang kemudian memilih digelar di hotel.

“Kita selama ini melaksanakan kegiatan seperti ini di kampus -kamus UIN Alauddin dan YPUP serta beberapa tempat lainnya, namun kali ini dilaksanakan di hotel. Memang ada kekhawatiran kita tidak mampu, namun dengan jiwa dan semangat besar warga Bima di Sulsel, akhirnya kegiatan ini dilaksanakan di hotel berbintang,” ujar mantan Ketua Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Yayasan Pendidikan Ujung Pandang (YPUP( ini.

Ibrahim Ahmad mengatakan, jika kita tidak memiliki jiwa dan semangat besar untuk melaksanakan sesuatu, jelas kegiatan besar seperti ini tidak akan dapat dilaksanakan. Dan, kita hanya akan melaksanakan kegiatan yang kecil-kecil saja.

“Orang Bima di Sulsel ini mampu melaksanakan sesuatu secara bersama-sama. Profesornya saja sudah 18 orang dalam berbagai disiplin ilmu. Mereka yang bergelar doktor malah dua kali lipat dari jumlah menjabat Profesor,” ujar Ibrahim Ahmad yang baru setahun menjabat Ketua KMBS Nusa Tenggara Barat tersebut setelah beberapa tahun silam juga pernah memimpin organisasi kerukunan masyarakat diaspora Bima ini.

Baca juga :  Pj.Bupati Sinjai Pimpin Upacara Detik-Detik Proklamasi Ke-79 Tahun

Penceramah Halal Bihalal Ir.H. Ilah Muhammad, S.Ag. menyebutkan, orang-orang yang melaksanakan ibadah puasa dengan “laa ilaaha illallah” pastilah lahir pada dirinya selain mampu mengendalikan hawa nafsunya, juga akan bersikap tawaddu’, orang yang senantiasa merendahkan dirinya kepada Allah. Tidak ada di dalam dirinya sifat angkuh, sombong, dan dia selalu merendahkan dirinya kepada Allah swt. Artinya, membuka dirinya dengan segala hal, termasuk terhadap sesama orang lain tanpa memandang status sosial.

“Tidaklah seseorang yang memiliki sifat tawaddu, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya dan keimanan yang ada pada dirinya. Imanya bertambah kuat dan tidak terpengaruh dengan apa yang menimpa dirinya,” ujar lulusan Sarjana Teknik Mesin Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini.

Pria kelahiran Kampung Bugis Sape Bima ini menyebutkan, apapun yang menghantam seorang yang memiliki sikap merendahkan diri kepada Allah baik dengan harta benda dan jabatan, tidak akan pernah goyah sekali pun. Bahkan, imannya dijaga oleh Allah. Bagaimana caranya, orang yang tawaddu itu selalu dilindungi Allah.

“Jika dia melakukan atau berkata yang tidak baik, akan selalu berkata “astagfirullahul adzim. Orang yang tawaddu dan melaksanakan halal bihalal ini adalah Allah mengangkat akhlaknya. Mereka ini adalah orang-orang yang selalu merendahkan diri yang di dalam bahasa Mbojo (bahasa Bima), ‘maja labo dahu” (malu dan takut) ” ujar ayah empat anak tersebut.

Orang yang tawaddu ini diangkat derajatnya, akan selalu merasa sejuk bertemu dengan semua orang. Kalau dia tiada, akan terasa tidak ada dan hilang di dalam masyarakat kita. Hal itu disebabkan, orang-orang yang tawaddu itu akhlaknya luar biasa. Begitu pun tidak akan tercipta acara halal bihalal ini jika tidak ada sikap “tawaddahu” di antara kita, yang mau membuka hati dan merendahkan diri kepada Allah swt.

Baca juga :  Hari Terakhir Rekon BOSP, Cabdin Bagi Waktu Pemeriksaan Sekolah

“Mustahil halal bihalal ini bisa terwujud pada orang-orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong dan angkuh,” sebut Ilah Muhammad.

Ciri-ciri orang tawaddu itu adalah orang yang selalu mau mendengar pendapat orang lain. Jika orang memberikan nasihat, dia akan selalu ikuti dengan cermat. Kalau ada orang yang memberikan masukan, dia akan terima.

Di antara tokoh masyarakat yang hadir ada yang sudah berusia 80 tahun, seperti H. Salbini Tahir, S.H. yang merupakan orang Bima gelombang pertama yang merantau ke Makassar pulhan tahun silam. Tokoh lainnya, Drs. H. Abdul Karim, M.Pd. yang sudah berusia kepala tujuh, mantan Ketua KMBS Ir. M. Ikhsan M.M. dan Dr. Syafyuddin Yusuf, ST, M.Si. (mantan Sekretaris Umum KMBS), Prof. Dr. Syafiuddin M. Saleh, M.Si, Prof. Dr. Imran Ismail, M.S., Prof. Dr. Ahyar Ahmad, M.Sc., Prof. Dr. Hamzah Hasan, M.HI, Prof. Dr. Muslimin H.Kara, M.Ag, Prof. Dr. Abdullah Thalib, S.Ag., M.Ag., Dr. M. Yusuf Bintang, S.H., M.H., Dr. H. Ikhwan M.Said, M.Hum, Dr. Aksa, S.Pd., M.Pd. Dr. Abdullah Abidin, S.E.,M.Si., H.Jufri H.Ahmad, S.E., Drs. Zaidun Hasan, Drs. H. Yusuf Hamzah, M.Pd., Drs. H. Husen Yahya, Dr. Muhammad Nasir, S.Pd., M.Pd. para mahasiswa Bima dan beberapa tokoh masyarakat Bima lainnya.

Halal bihalal ini dilaksanakan oleh satu panitia yang diketuai Dr. H. Husen Sarujin, M.Pd., M.M. M.H., Dr. Khairuddin, S.Hum, M.Hum (Sekretaris) dan Hj. Sumantia Afandi selalu Bendahara. Panitia juga dilengkapi seksi-seksi:Acara, Dana dan Konsumsi, Dokumentasi, Perlengkapan, Humas, dan Keamanan.

Usai acara resmi, para tokoh masyarakat Bima yang hadir berdiri berjejer menerima ucapan maaf dan berhalal bihalal dengan yang hadir, (mda).

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!