PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Senyum Prof Dr Hj Kembong Daeng, M.Hum tampak berbeda pagi itu. Bukan sekadar bahagia, tapi juga sarat makna. Di kampung halamannya sendiri—Dusun Bontolebang, Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar—buku autobiografinya Permata Karya akan dibedah, Sabtu, 3 Januari 2026.
Desa kecil yang sunyi itu menyimpan jejak awal perjalanan hidup Kembong Daeng. Di sanalah perempuan yang lahir pada 31 Desember 1964 ini menanam akar nilai, sebelum kemudian tumbuh menjadi Guru Besar Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM).
Buku Permata Karya—yang diterbitkan oleh Pakalawaki—merekam perjalanan panjang akademik dan kesastraannya. Karier Kembong Daeng sebagai dosen dimulai sejak 1 Maret 1989. Sejak itu, ruang hidupnya tak pernah jauh dari dunia kata: mengajar, meneliti, mengabdi kepada masyarakat, dan menulis tanpa henti.
Ia tak hanya melahirkan karya sastra, tetapi juga buku ajar dan referensi yang digunakan lintas jenjang pendidikan. Sejumlah karyanya antara lain Kosakata Tiga Bahasa (2013), Sintaksis Bahasa Makassar (2015), Kelong-Kelonna Tau Mangkasaraka (2018), dan Puisi Perempuan Makassar (2018).
Deretan karya lainnya mencerminkan dedikasinya menjaga bahasa dan sastra Makassar: Pappilajarang Basa Mangkasarak jenjang SD hingga SMA jilid I–XII (2000), Gaya Bahasa dan Penerapannya dalam Bahasa Makassar (2000), Kelong Pannyaleori 33 jilid (2021), Pakrimpungan Sanjak Mangkasarak (2022), Apresiasi Puisi Makassar (2022), hingga Puisi Sumur Tak Mengering (2022).
Autobiografi Permata Karya sejatinya telah diperkenalkan secara soft launching pada 2023 di Kampus Universitas Patompo, Makassar. Saat itu, peluncuran buku dirangkai dengan perayaan 34 tahun pernikahannya bersama sang suami, Dr Drs H Muh Yahya, M.Pd.
Namun waktu membawa cerita lain. Pada Desember 2024, suami tercinta yang selalu menjadi penyemangat itu berpulang ke hadirat Ilahi. Pasangan pendidik yang menikah pada 4 November 1989 ini dikaruniai tiga anak: Nurul Fajriati Yahya, Syahratul Hawaisa Yahya, dan Muhammad Fahmi Yahya.
Karena itulah, diskusi Permata Karya kali ini terasa jauh lebih personal. Bukan hanya tentang buku, tetapi juga tentang kenangan, keteguhan, dan amanah yang harus diteruskan. Terlebih, acara ini dirangkaikan dengan Launching Program Pannyaleori Institut bertema “Perkuat Literasi demi Pemajuan Kebudayaan.”
Prof Kembong Daeng mengaku, lahirnya Pannyaleori Institut tak lepas dari pesan almarhum suaminya. Sebuah pesan sederhana namun dalam: kembali ke kampung halaman, membangun dari akar, dan menghidupkan literasi budaya—terutama bahasa dan sastra Makassar.
Diskusi buku ini diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori, menghadirkan tiga pembicara: Prof Dr Sukardi Weda (Guru Besar UNM), Rusdin Tompo (editor dan Koordinator Satupena Sulawesi Selatan), serta Abdul Jalil Mattewakkang, S.Pd, MH, MM, tokoh literasi Takalar.
Acara yang akan dihadiri berbagai kalangan ini dipandu oleh Anwar Nasyaruddin sebagai moderator. Nuansa budaya semakin terasa dengan parade pembacaan puisi dan permainan kesok-kesok yang dibawakan Haeruddin, pasinrilik.
Di kampung kecil tempat segalanya bermula, Prof Kembong Daeng kembali—membawa Permata Karya, dan menanam harapan agar literasi terus hidup, tumbuh, dan diwariskan. ( Ardhy M Basir )

