Menurutnya, Pannyeleori Institut membuka jalan agar warga Moncong Komba membangun masa depan dengan ketajaman intelektual, bukan semata keberanian. Ia berharap kejayaan masa lalu—keulamaan dan kecendekiaan dapat diraih kembali melalui literasi.
Bagi Prof. Kembong Daeng, momen ini adalah kepulangan batin. Ia menyampaikan harapannya agar Moncong Komba kelak menjadi Kampung Wisata Budaya dan Sentra Literasi di Takalar. Dengan suara bergetar, ia mengenang peran Prof. Sukardi Weda dalam perjalanan akademiknya, sekaligus menyampaikan pesan almarhum suaminya.
“Bapakmu berpesan: kamu dari kampung, dan kembalilah ke kampung untuk membangun kampungmu,” ucapnya, sembari menyeka air mata.
Pesan itu menjadi napas dari lahirnya Pannyeleori Institut. Bukan sekadar lembaga, melainkan amanah—bahwa literasi adalah jalan pulang untuk merawat kampung, menjaga kebudayaan, dan menyemai masa depan.
Kegiatan ini turut dihadiri tokoh-tokoh literasi Makassar seperti Yudhistira Sukatanya, M. Amir Jaya, Dr. Fadli Andi Natsif, Rahman Rumaday, Dr. Azis Nojeng, Nasrullah, serta jurnalis senior Rusdi Embas. Kehadiran mereka menegaskan bahwa dari kampung kecil bernama Moncong Komba, nyala literasi bisa menjalar jauh selama ada keberanian untuk pulang dan membangun. (Ardhy M Basir)
