Oleh: Oswar Mungkasa (Pencinta Lingkungan)
DALAM rentang waktu kurang dari tiga minggu, dunia memperingati tiga momentum internasional yang berkaitan dengan alam dan keberlanjutan kehidupan. Pada 22 Mei diperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, disusul Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni, dan kemudian Hari Laut Sedunia pada 8 Juni.
Bagi sebagian orang, peringatan tersebut mungkin hanya menjadi bagian dari kalender tahunan yang datang dan pergi. Namun jika dicermati lebih jauh, rangkaian peringatan tersebut sesungguhnya menyimpan sebuah pertanyaan yang lebih mendasar mengenai hubungan manusia dengan alam yang menopang kehidupannya.
Tiga Peringatan Lingkungan Global
Tiga peringatan terkait agenda lingkungan global sejatinya hadir dengan tema yang berbeda. Hari Keanekaragaman Hayati tahun ini mengajak masyarakat dunia untuk bertindak di tingkat lokal demi menghasilkan dampak global. Hari Lingkungan Hidup Sedunia menekankan pentingnya aksi nyata menghadapi tantangan iklim yang semakin mendesak. Sementara itu, Hari Laut Sedunia mengajak kita membayangkan kembali hubungan manusia dengan laut dan masa depan yang ingin dibangun bersama.
Sepintas, tidak ada yang luar biasa dari rangkaian peringatan tersebut. Setiap tahun dunia memang memiliki banyak hari peringatan mancanegara. Sebagian memperoleh perhatian luas, sebagian lainnya berlalu tanpa banyak disadari. Namun menarik bahwa isu keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, dan laut terus muncul secara berulang dalam kalender global, seolah-olah ada sesuatu yang perlu terus diingatkan kepada manusia.
Pada pandangan pertama, ketiganya tampak berbicara mengenai hal yang berbeda. Mulai dari menyoroti keragaman spesies dan ekosistem, lalu menyoroti berbagai tantangan lingkungan hidup, dan berakhir menyoroti laut sebagai penopang kehidupan bumi. Namun justru di sinilah letak pertanyaannya.
Mengapa dunia merasa perlu terus mengingatkan manusia tentang keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, dan laut? Apa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan? Adakah persoalan yang lebih mendasar yang menghubungkan berbagai isu tersebut di balik keragaman tema yang tampak di permukaan?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin berkesesuaian ketika berbagai laporan ilmiah dan perdebatan kebijakan menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, pencemaran lingkungan, penurunan kualitas ekosistem pesisir, hingga menurunnya kesehatan laut. Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari perjanjian mancanegara hingga program konservasi setempat. Namun berbagai krisis ekologis masih terus berlangsung dan dalam banyak kejadian menunjukkan kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan.
Sepertinya ketiga peringatan tersebut tidak cukup dipahami hanya sebagai agenda tahunan yang datang dan pergi. Bisa jadi ketiganya sedang mengajak kita melihat sesuatu yang lebih mendasar daripada persoalan yang tampak di permukaan. Sesuatu yang berkaitan dengan cara manusia memahami alam, sekaligus memahami posisinya sendiri di dalam dunia yang menjadi tempat hidupnya.
Dari Alam sebagai Rumah Menuju Alam sebagai Sumber Daya
Bagi sebagian besar perjalanan sejarah manusia, alam bukanlah sesuatu yang berada di luar kehidupan manusia. Alam adalah tempat manusia hidup, mencari makan, memperoleh air, membangun tempat tinggal, dan memahami keberadaannya di dunia. Hutan, sungai, laut, gunung, dan berbagai unsur alam lainnya bukan sekadar bentang fisik, melainkan bagian dari ruang kehidupan yang menyatu dengan keseharian manusia.
Pada sebagian masyarakat tradisional, hubungan tersebut bahkan tercermin dalam berbagai nilai, pengetahuan, dan penerapan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Alam dipahami bukan hanya sebagai sumber penghidupan, tetapi juga sebagai bagian dari tatanan kehidupan yang harus dijaga agar tetap seimbang.
Seiring waktu, hubungan tersebut perlahan mengalami perubahan. Pertumbuhan penduduk, perkembangan teknologi, perluasan perdagangan, dan meningkatnya kebutuhan ekonomi mendorong manusia untuk mengelola dan memanfaatkan alam dalam skala yang lebih besar. Perubahan ini membawa banyak manfaat. Produksi pangan meningkat, transportasi berkembang, dan berbagai kemajuan ekonomi dimungkinkan.
Namun pada saat yang sama, perubahan tersebut juga menggeser cara pandang manusia terhadap alam.
Jika sebelumnya alam lebih sering dipahami sebagai ruang kehidupan bersama, perlahan-lahan alam mulai dipandang sebagai kumpulan sumber daya yang dapat diolah, dimanfaatkan, dan dioptimalkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Hutan menjadi sumber kayu. Sungai menjadi sumber air dan energi. Laut menjadi ruang produksi dan perdagangan. Tanah menjadi aset yang dapat menghasilkan nilai ekonomi.
Perubahan cara pandang ini tidak terjadi dalam semalam namun berlangsung secara bertahap dan kemudian menjadi bagian dari proses modernisasi yang membentuk dunia saat ini. Berbagai kemajuan yang dinikmati manusia tidak dapat dilepaskan dari kemampuan mengelola sumber daya alam secara lebih efektif. Namun ketika logika pemanfaatan menjadi semakin ‘berkuasa’, hubungan manusia dengan alam mulai mengalami penyederhanaan.
Alam semakin sering dipahami melalui fungsi yang dapat diukur dan dimanfaatkan. Nilainya cenderung dilihat dari apa yang dapat dihasilkan, sementara berbagai fungsi ekologis yang menopang kehidupan sering kali kurang mendapatkan perhatian yang setara. Dalam keadaan seperti ini, keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, dan laut mulai diperlakukan sebagai isu yang berdiri sendiri dan dikelola dalam ruang kebijakan yang terpisah.
Padahal dalam kenyataannya, kehidupan manusia dan alam berkembang melalui hubungan yang jauh lebih rumit daripada berbagai kategori yang diciptakan untuk memudahkan pengelolaannya. Apa yang terjadi di hulu sungai dapat memengaruhi wilayah pesisir. Apa yang terjadi di laut dapat memengaruhi kehidupan di daratan. Demikian pula perubahan yang terjadi pada satu bagian ekosistem dapat menimbulkan dampak pada bagian lainnya.
Karena itu, sebelum membahas berbagai krisis yang tampak di permukaan, ada baiknya kita terlebih dahulu memahami bahwa kehidupan manusia dan alam sesungguhnya berkembang dalam hubungan yang jauh lebih erat daripada yang sering kita bayangkan.
Tiga Peringatan, Satu Sistem Kehidupan
Dalam kehidupan sehari-hari, keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, dan laut sering dipahami sebagai isu yang berbeda. Ada lembaga yang mengurus konservasi satwa dan tumbuhan, ada yang menangani pencemaran lingkungan, dan ada pula yang berhaluan pada pengelolaan wilayah pesisir dan laut. Cara pengelompokan seperti itu tentu memudahkan pengelolaan dan pembagian tugas. Namun alam tidak selalu bekerja mengikuti pembagian yang dibuat manusia.
Apa yang terjadi di satu tempat sering kali memengaruhi tempat lain. Limbah yang dibuang ke sungai pada akhirnya dapat bermuara ke laut. Kerusakan hutan di daerah hulu dapat meningkatkan erosi dan pendangkalan di kawasan pesisir. Perubahan tata guna lahan di daratan dapat memengaruhi kualitas perairan yang menjadi habitat berbagai organisme laut. Sebuah persoalan yang tampak terjadi di daratan ternyata dapat berakhir sebagai persoalan di laut.
Keterhubungan yang sama juga terlihat dalam hubungan antara lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati. Berbagai spesies tumbuhan, satwa, dan mikroorganisme bergantung pada kualitas lingkungan tempat hidupnya. Ketika hutan mengalami penurunan kualitas, sumber air mengering, atau suhu lingkungan berubah secara nyata, berbagai bentuk kehidupan yang bergantung padanya ikut menghadapi tekanan. Menjaga keanekaragaman hayati pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga lingkungan hidup yang menopangnya.
Sebaliknya, lingkungan yang sehat juga bergantung pada keberadaan berbagai organisme yang menjalankan fungsi penting bagi kehidupan. Tumbuhan menghasilkan oksigen, serangga membantu penyerbukan, hutan membantu mengatur siklus air, sementara berbagai organisme lain berperan menjaga kesuburan tanah dan keseimbangan ekosistem. Ketika keanekaragaman hayati menurun, kemampuan lingkungan untuk menjalankan fungsi tersebut ikut melemah.
Laut memperlihatkan keterhubungan itu dalam skala yang lebih luas. Selama ini laut sering dipandang sebagai ruang yang terpisah dari kehidupan di daratan. Padahal laut berperan penting dalam mengatur iklim, menyerap sebagian emisi karbon, menyediakan sumber pangan, serta menopang kehidupan jutaan manusia. Apa yang terjadi di laut akan memengaruhi kehidupan di daratan, sebagaimana apa yang terjadi di daratan pada akhirnya juga akan memengaruhi kondisi laut.
Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa alam bekerja sebagai sebuah sistem yang saling terhubung. Air, tanah, hutan, sungai, pesisir, laut, tumbuhan, satwa, dan manusia tidak berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing terhubung melalui proses-proses ekologis yang berlangsung terus-menerus, sering kali tanpa disadari.
Karena itu, ketiga peringatan internasional yang berlangsung hampir berurutan setiap tahun dapat dipahami sebagai tiga pintu masuk untuk melihat kenyataan yang sama. Keanekaragaman hayati mengingatkan pentingnya keragaman kehidupan. Lingkungan hidup mengingatkan pentingnya ruang hidup yang sehat. Laut mengingatkan bahwa seluruh sistem kehidupan di bumi terhubung melampaui batas-batas yang dibuat manusia.
Jika demikian, maka berbagai krisis yang kita saksikan saat ini mungkin tidak cukup dipahami sebagai kumpulan persoalan yang berdiri sendiri. Ada kemungkinan bahwa semuanya merupakan gejala dari sesuatu yang lebih mendasar yang sedang berlangsung dalam cara manusia berhubungan alam sekitarnya.
Ketika Manusia Menempatkan Diri di Luar Alam
Berbagai krisis ekologis yang terjadi saat ini sering dijelaskan melalui faktor-faktor yang berbeda. Perubahan iklim dikaitkan dengan emisi gas rumah kaca. Hilangnya keanekaragaman hayati dikaitkan dengan kerusakan habitat. Pencemaran lingkungan dikaitkan dengan limbah dan pola produksi yang tidak berkelanjutan. Penurunan kualitas laut dikaitkan dengan eksploitasi sumber daya dan pencemaran pesisir.
Semua penjelasan tersebut tentu penting. Namun jika diperhatikan lebih jauh, berbagai persoalan tersebut tampaknya memiliki akar yang sama. Di balik beragam bentuk kerusakan yang terlihat, terdapat cara pandang yang secara perlahan menempatkan manusia seolah-olah berada di luar sistem alam yang menopang kehidupannya.
Dalam cara pandang seperti ini, alam cenderung diperlakukan sebagai sesuatu yang berada di hadapan manusia, sehingga dapat dimanfaatkan, diubah, dikelola, atau dieksploitasi sesuai kebutuhan. Hutan dilihat terutama sebagai sumber kayu. Sungai sebagai sumber air dan energi. Laut sebagai ruang produksi dan perdagangan. Tanah sebagai aset ekonomi yang dapat menghasilkan nilai tambah.
Cara pandang tersebut bukan sepenuhnya keliru. Kemajuan peradaban manusia memang banyak ditopang oleh kemampuan memanfaatkan berbagai sumber daya alam. Persoalannya muncul ketika hubungan manusia dengan alam semakin dipahami hanya melalui logika pemanfaatan. Pada titik ini, alam perlahan kehilangan maknanya sebagai sistem kehidupan yang memungkinkan manusia hidup dan berkembang.
Padahal manusia tidak pernah benar-benar berada di luar alam. Udara yang dihirup, air yang diminum, pangan yang dikonsumsi, serta stabilitas iklim yang memungkinkan berbagai kegiatan sosial dan ekonomi berlangsung semuanya bergantung pada proses alam yang bekerja jauh melampaui kendali manusia. Bahkan berbagai kemajuan teknologi sekalipun tidak menghapus ketergantungan tersebut.
Kesadaran mengenai keterhubungan inilah yang sering kali memudar dalam berbagai diskusi pembangunan modern. Kita terbiasa berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, penanaman modal, produktivitas, dan pembangunan infrastruktur. Semua itu penting. Namun tidak jarang perhatian terhadap landasan ekologis yang memungkinkan seluruh kegiatan tersebut berlangsung justru berada di latar belakang.
Akibatnya, berbagai kerusakan lingkungan sering diperlakukan sebagai persoalan yang muncul setelah pembangunan berlangsung, bukan sebagai bagian yang sejak awal harus diperhitungkan dalam proses pembangunan itu sendiri. Alam diposisikan sebagai variabel yang harus disesuaikan, bukan sebagai sistem yang menetapkan batas-batas tempat kehidupan manusia dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Karenanya, mungkin persoalan paling mendasar yang diingatkan oleh berbagai peringatan internasional tersebut bukanlah sekadar bagaimana memperbaiki lingkungan yang rusak. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana manusia memahami kembali posisinya di dalam jaringan kehidupan yang lebih luas. Sebab sebelum berbicara tentang cara menjaga alam, kita terlebih dahulu perlu memahami bahwa manusia sendiri merupakan bagian dari alam yang sedang berusaha dijaga.
Menata Ulang Hubungan Manusia dan Alam
Dalam beberapa minggu terakhir, dunia kembali memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, Hari Lingkungan Hidup Sedunia, dan Hari Laut Sedunia. Ketiga momentum tersebut hadir dengan tema dan penekanan yang berbeda. Namun jika dicermati lebih jauh, semuanya mengarah pada pengingat yang serupa bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari sistem alam yang menopangnya.
Keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, dan laut bukanlah tiga persoalan yang berdiri sendiri. Ketiganya merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang saling terhubung. Ketika salah satu mengalami tekanan, dampaknya pada akhirnya akan dirasakan oleh bagian-bagian lain, termasuk oleh manusia yang bergantung padanya.
Karena itu, berbagai upaya untuk menjaga keberlanjutan tidak cukup hanya dilakukan melalui perbaikan teknis, penguatan regulasi, atau pengembangan teknologi, meskipun semuanya tetap diperlukan. Pada saat yang sama, dibutuhkan pula kesediaan untuk meninjau kembali cara manusia memandang hubungannya dengan alam. Bukan sebagai sesuatu yang berada di luar dirinya, melainkan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang sama.
Mungkin inilah pertanyaan yang sesungguhnya tersembunyi di balik ketiga peringatan tersebut. Bukan hanya bagaimana kita menjaga alam, melainkan bagaimana kita memahami kembali posisi kita di dalamnya. Sebab cara manusia memandang alam pada akhirnya akan memengaruhi cara manusia memperlakukan alam.
Pada akhirnya, menata ulang hubungan manusia dan alam bukan semata-mata agenda lingkungan hidup. Tetapi bahkan merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kehidupan itu sendiri. (*)
