Rupiah yang Melemah dan Tanda-Tanda yang Tidak Bisa Lagi Diabaikan

Ramzy
Ramzy 1.4k Pembaca
12 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh: Oswar Mungkasa (Perencana Ahli Utama Bappenas)

TERDAPAT kecenderungan di Indonesia untuk menganggap pelemahan rupiah sebagai sesuatu yang “biasa”. Setiap kali dolar naik, penjelasan yang muncul hampir selalu senada bahwa keadaan global sedang tidak baik, suku bunga Amerika naik, perang terjadi di berbagai kawasan, atau penanam modal sedang mencari aset aman. Semua itu benar. Tetapi penjelasan tersebut hanya menjelaskan separuh persoalan.

Pertanyaan sebenarnya adalah mengapa setiap guncangan global selalu membuat rupiah jauh lebih rentan dibanding banyak negara lain? Di sinilah letak persoalan mendasarnya. Pelemahan rupiah bukan sekadar cerita tentang dolar yang terlalu kuat. Tetapi juga merupakan cermin tentang seberapa kuat landasan ekonomi Indonesia sendiri.

Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah kembali berada dalam tekanan berat. Banyak kalangan mulai mempertanyakan apakah pelemahan ini murni disebabkan faktor luar atau justru karena pasar mulai melihat adanya persoalan domestik yang semakin serius. Pertanyaan itu penting karena pasar keuangan pada dasarnya bekerja berdasarkan kepercayaan. Nilai tukar tidak hanya dipengaruhi angka ekonomi, tetapi juga pandangan terhadap masa depan suatu negara.

Faktor Luar: Dunia Memang Sedang Bergejolak

Tidak dapat dipungkiri, dunia memang sedang berada dalam keadaan sulit. Amerika Serikat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan. Akibatnya, dana global kembali mengalir ke aset dolar AS karena dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil tinggi. Perseterua geopolitik di berbagai kawasan juga meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai safe haven currency. Dalam keadaan seperti ini, hampir semua mata uang negara berkembang mengalami tekanan.

Indonesia tentu terkena dampaknya. Ketika penanam modal global menarik dana dari pasar obligasi dan saham negara berkembang, rupiah ikut melemah. Arus modal keluar membuat permintaan dolar meningkat. Pada saat bersamaan, kebutuhan impor, terutama energi dan bahan baku, tetap tinggi sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar.

Baca juga :  Satres Narkoba Polres Sinjai Berhasil Amankan Terduga Pelaku Narkotika Jenis Sabu

Tetapi faktor luar tidak cukup menjelaskan semuanya. Sebab jika akar persoalannya hanya global, maka seluruh negara berkembang seharusnya mengalami tekanan yang relatif sama. Faktanya, tingkat kerentanan tiap negara berbeda. Di sinilah faktor domestik menjadi sangat menentukan.

Faktor Internal: Ketika Pasar Mulai Meragukan Ketahanan Domestik

Pasar selalu membaca arah. Ketika pasar melihat arah kebijakan tidak ajek, defisit fiskal membesar, ketergantungan impor tinggi, atau kualitas belanja negara dipertanyakan, maka tekanan terhadap mata uang akan meningkat jauh lebih cepat.

Beberapa persoalan internal Indonesia saat ini tampak semakin nyata, diantaranya: Pertama, struktur ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk berbagai kebutuhan strategis, baik energi, pangan tertentu, bahan baku industri, bahkan komponen teknologi. Akibatnya, setiap pelemahan rupiah langsung meningkatkan biaya produksi dan tekanan inflasi.

Kedua, ekspor Indonesia masih sangat bergantung pada komoditas mentah. Ketika harga komoditas turun atau permintaan global melambat, pasokan devisa ikut menurun. Indonesia belum sepenuhnya berhasil membangun struktur ekspor berbasis manufaktur berteknologi tinggi seperti yang dilakukan banyak negara Asia Timur.

Ketiga, pasar mulai memperhatikan kualitas pengeluaran negara. Persoalan utamanya bukan semata besar kecilnya anggaran, melainkan apakah belanja tersebut menghasilkan kapasitas ekonomi baru.

Belanja publik yang memperkuat industri, logistik, teknologi, pendidikan berkualitas, ketahanan energi, dan produktivitas nasional umumnya dipandang positif oleh pasar. Sebaliknya, ketika ruang fiskal semakin besar diarahkan pada program yang bersifat distributif jangka pendek, proyek simbolik, atau kegiatan yang efek produktivitas ekonominya belum jelas, maka muncul pertanyaan mengenai efisiensi fiskal dan arah pembangunan jangka panjang.

Dalam situasi seperti itu, pelemahan kepercayaan sering kali tercermin pada tekanan terhadap mata uang domestik.

Baca juga :  DPW Partai Ummat Sulsel Gelar Pembekalan Caleg, Amin Rais : Mudah-Mudahan Ada Ke DPR-RI

Keempat, ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek masih besar. Ini membuat rupiah sangat sensitif terhadap sentimen global. Begitu penanam mdal asing keluar dari pasar obligasi domestik, tekanan langsung terasa.

Yang paling mengkhawatirkan sebenarnya bukan pelemahan rupiah itu sendiri, tetapi gejala menurunnya kepercayaan terhadap kemampuan negara mengelola ekonomi secara meyakinkan.

Pelajaran dari Negara Lain: Mata Uang Kuat Tidak Lahir Secara Tiba-Tiba

Banyak negara pernah mengalami krisis mata uang. Tetapi negara yang berhasil keluar biasanya melakukan pembenahan struktural secara serius.

Korea Selatan setelah krisis Asia 1997 tidak hanya menaikkan suku bunga atau mencampuri pasar valuta asing, tetapi melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap sektor keuangan, memperkuat industri manufaktur, meningkatkan kualitas ekspor, dan memperbaiki tata kelola korporasi.

Cina menjaga kekuatan mata uangnya bukan hanya dengan cadangan devisa besar, tetapi karena memiliki basis industri dan ekspor yang sangat kuat. Dunia membutuhkan barang produksi mereka.

Jepang mampu mempertahankan yen selama puluhan tahun karena memiliki kedalaman industri, teknologi, dan produktivitas yang tinggi.

Sementara banyak negara yang gagal menjaga mata uangnya umumnya memiliki pola yang mirip seperti defisit kronis, ketergantungan impor, utang tinggi, dan kepercayaan pasar yang melemah.

Nilai tukar pada akhirnya bukan sekadar urusan moneter. Namun refleksi kekuatan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Pelajaran Penting dari Era B. J. Habibie

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!