Di tengah suasana itu, pesan dan harapan pun mengalir. Waty Ambo Ala menegaskan bahwa arisan ini bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi menjadi jembatan silaturrahmi yang terus hidup.
Yusniati, angkatan 81, menyuarakan harapan agar setiap pertemuan diisi dengan kegiatan kerohanian—pengajian, zikir, atau tausiyah—agar kebersamaan tak hanya terasa di dunia, tetapi juga bernilai di sisi Allah.
Hasnar Wati melihat arisan sebagai denyut paling nyata dari program organisasi yang berjalan konsisten. Dari periode pertama hingga ketiga, dinamika jumlah peserta tak mengurangi esensi—bahkan di periode ketiga, meski lebih sedikit, justru aktivitasnya semakin berwarna.
Di ujung perbincangan, muncul harapan yang sederhana namun mendalam: agar para bapak juga diberi ruang untuk belajar membaca Al-Qur’an. Sebuah keinginan yang menggambarkan bahwa silaturrahmi sejati bukan hanya menguatkan hubungan antar manusia, tetapi juga mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Arisan ini mungkin tampak sederhana. Namun di dalamnya, tersimpan nilai-nilai besar—tentang ukhuwah, keikhlasan, dan harapan akan keberkahan.
Dan ketika pertemuan itu berakhir, yang tertinggal bukan sekadar kenangan, melainkan doa yang diam-diam terpanjat: semoga setiap langkah kebersamaan ini menjadi bagian dari ibadah, yang kelak berbuah kebaikan, di dunia dan di akhirat. ( Ardhy M Basir )

