Pada 7 November 2013, Said Welikin mendirikan blog berita Nalar News (https://nalar-news.blogspot.com/), yang memuat berita, reportase, cerpen, serta artikel opini karyanya. Ia juga aktif sebagai Kompasianer. Dalam profilnya ia menulis: “Saya seorang wartawan di Makassar. Prinsip hidup, berusaha memberikan yang terbaik.” Di Kompasiana, ia menulis setidaknya 21 artikel, salah satunya berjudul “‘Surga’ Ada di Teluk Laikang.”
Setelah Tabloid Lintas berhenti terbit secara cetak dan versi daringnya pun tidak berlanjut, Said Welikin beberapa kali berpindah media. Melalui jaringan WhatsApp, ia kerap mengirimkan tautan berita yang dimuat di sejumlah media daring, seperti jalurinfo.com, wartasulsel.net, infofaktaterkini.com, merahputihku.com, radarnkri.id, dan suaraselatan.com.
“Ada juga media yang memberi honor, tapi kebanyakan tidak ada honornya,” katanya suatu waktu.
Meski demikian, pria kelahiran 15 Agustus 1960 ini tidak pernah meninggalkan profesinya. Wartawan adalah identitas yang ia genggam hingga akhir hayat.
Muhammad Said Welikin bin Yohanes Wellikin wafat di Makassar pada Rabu, 4 Februari 2026. Sebelum berpulang, ia mengalami sakit berkepanjangan—penglihatan rabun, stroke, dan tidak lagi mampu berjalan. Lebih banyak waktunya dihabiskan dengan berbaring dan beristirahat. Namun kondisi fisik itu tidak pernah memadamkan naluri jurnalistiknya.
Pada 28 Juli 2025, ia masih sempat mengirimkan saya sebuah tautan berita. Saya terkejut, karena ia telah lama terbaring sakit. Saya membalas, “Wah, sudah bisa bikin berita.”
Ia menjawab, “Sering bikin berita. Naluri wartawan susah dibendung.”
Pada 1 Agustus 2025, ia kembali mengirimkan sebuah tautan berita—dan itulah kiriman terakhir darinya.
Selamat jalan, saudaraku Said Welikin. Engkau adalah wartawan sejati. Engkau tetap setia pada profesi ini meski sakit, rabun, dan terserang stroke. Engkau mempertahankan jurnalisme hingga hembusan napas terakhir. (Asnawin Aminuddin)

