SATUPENA Sulsel Dukung Pannyaleori Institut Wujudkan Moncongkomba sebagai Desa Wisata Sejarah dan Budaya

Ramzy
Ramzy 206 Pembaca
4 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, TAKALAR - Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA Sulawesi Selatan menegaskan komitmennya mendukung gerakan literasi, termasuk mengambil peran dalam upaya Pannyaleori Institut mewujudkan Desa Moncongkomba sebagai Desa Wisata Sejarah dan Budaya.

Komitmen itu disampaikan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan, Rusdin Tompo, usai penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara SATUPENA Sulsel, Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori Institut, dan Penerbit CV Subaltern Inti Media, di Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, Sabtu, 3 Januari 2026.

“SATUPENA Sulawesi Selatan berkomitmen selalu mendukung gerakan literasi, termasuk berperan dalam ikhtiar Pannyaleori Institut menjadikan Moncongkomba sebagai Desa Wisata Sejarah dan Budaya,” ujar Rusdin Tompo.

Ia menjelaskan, gagasan pengembangan Desa Moncongkomba sebagai desa wisata berbasis sejarah dan budaya mengemuka setelah diskusi dengan Prof Dr Hj Kembong Daeng. Dari aspek historis, kultural, sumber daya manusia, hingga jejaring, Moncongkomba dinilai sangat potensial untuk dikembangkan.

Desa Moncongkomba sendiri merupakan tanah kelahiran Prof Kembong Daeng, Guru Besar Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM). Pada akhir pekan tersebut, Pannyaleori Institut menggelar diskusi buku autobiografi Permata Karya yang ditulis Prof Kembong Daeng, sekaligus melaunching program-program Pannyaleori Institut.

Sebagai penanda peluncuran program, dilakukan penandatanganan MoU antara SATUPENA Sulsel, Pannyaleori Institut, dan Penerbit CV Subaltern Inti Media. Acara ini diawali dengan kolaborasi pembacaan puisi Panggil Aku Daeng karya Rusdin Tompo oleh Dr Fadli Andi Natsif, SH, MH, diiringi pansirilik Haeruddin yang memainkan kesok-kesok.

Ketua Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori Institut, Muhammad Fahmi Yahya, SS, menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya, MoU ini menjadi bentuk dukungan nyata terhadap penguatan gerakan literasi di tingkat desa.

Baca juga :  Serap Aspirasi Masyarakat, Kapolres Pelabuhan Makassar Dampingi Wakapolda Sulsel Di Kegiatan Jum'at Curhat

“Kami berterima kasih atas kesediaan berkolaborasi dalam mendukung Pannyaleori Institut dan gerakan literasi di Moncongkomba,” ujar Fahmi di hadapan para undangan.

Ruang lingkup kerja sama tiga pihak ini meliputi penguatan gerakan literasi sastra, sejarah, dan budaya melalui pelatihan serta pendampingan menulis kreatif, citizen journalism (pewarta warga), dan kegiatan pendokumentasian dalam bentuk cetak seperti newsletter dan penerbitan buku.
Program literasi tersebut dirancang menyatu dengan upaya mewujudkan Desa Moncongkomba sebagai Desa Wisata Sejarah dan Budaya, sekaligus menumbuhkan budaya gemar membaca dan menulis. Pemanfaatan Perpustakaan Pannyaleori Institut juga diarahkan sebagai ruang membaca, menulis, berekspresi, dan berkreasi, sejalan dengan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial.

Sementara itu, Direktur Penerbit CV Subaltern Inti Media, Rasmi Safitri, S.Hum, berharap kerja sama ini dapat mendorong Takalar sebagai kabupaten literasi, sebagaimana pengalaman yang telah mereka lakukan sebelumnya di Kabupaten Maros.

“Kami memiliki pengalaman mengembangkan program literasi dan memfasilitasi penerbitan buku di Maros. Semoga kolaborasi ini juga memberi dampak positif bagi Takalar,” kata Rasmi.

Diskusi buku Permata Karya menghadirkan Prof Dr Sukardi Weda, Guru Besar UNM dan salah satu calon Rektor Universitas Hasanuddin, Rusdin Tompo selaku editor buku dan Koordinator SATUPENA Sulsel, Abdul Jalil Mattewakkang, S.Pd., MH., MM., tokoh literasi Takalar, serta Rosita Desriani, staf FBS UNM dan pegiat literasi SATUPENA.

Sejumlah kalangan turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya anggota DPRD Kabupaten Takalar, tokoh masyarakat Moncongkomba yang berkiprah secara nasional, aparat desa, penulis, pegiat literasi, jurnalis, dan budayawan. (Ardhy M Basir)

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!