Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026: Semesta yang Dipanggil, Sistem yang Diuji

Ramzy 1.5k Pembaca
6 Menit baca

Ketika masyarakat bergotong royong memperbaiki fasilitas sekolah yang semestinya menjadi tanggung jawab pemerintah, di sinilah batas antara keterlibatan dan pengganti (substitusi) mulai kabur.

Di titik ini, “semesta” memang hadir tetapi tidak selalu dalam posisi yang setara. Sebagian terlibat karena pilihan. Sebagian lainnya karena tidak punya pilihan. Di sinilah tema ini menemukan ujian paling jujurnya.

Apakah “partisipasi semesta” benar-benar memperluas keterlibatan yang bermakna?

Atau justru tanpa disadari menjadi cara halus untuk membiasakan ketimpangan peran?

Karena keterlibatan yang sejati tidak lahir dari kekosongan peran pemerintah. Tetapi tumbuh dari sistem yang kuat, yang memberi ruang, bukan memindahkan beban. Dalam bahasa yang lebih sederhana adalah ketika pemerintah belum sepenuhnya hadir, masyarakat diminta untuk hadir lebih dulu.

Sementara itu, pemerintah tetap memegang peran kunci. Berbagai agenda seperti revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, hingga peningkatan kesejahteraan guru menunjukkan arah yang positif. Namun tantangan sesungguhnya tidak pernah berhenti pada perumusan kebijakan melainkan pada keajegan pelaksanaan.

Digitalisasi tidak akan bermakna tanpa kesiapan infrastruktur dan kemampuan guru. Revitalisasi tidak akan berdampak tanpa pengawasan yang berkelanjutan. Dan peningkatan kesejahteraan tidak akan terasa jika belum menyentuh mereka yang paling rentan.

Di tengah semua itu, pertanyaan mendasar tetap sama, yaitu apakah “partisipasi semesta” sedang dibangun di atas sistem yang kuat, atau justru digunakan untuk menutup kelemahan sistem itu sendiri?

Karena pada akhirnya, pendidikan tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada semangat gotong royong. Dibutuhkan keberpihakan yang jelas, kebijakan yang berkesinambungan, dan yang paling penting, dibutuhkan pemerintah yang hadir secara utuh.

Hardiknas seharusnya tidak berhenti pada tema. Namun harus hidup dalam praktik, di ruang kelas, dalam kebijakan, dan dalam keputusan anggaran. Tetap harus terasa oleh guru, oleh siswa, dan oleh orang tua. Jika tidak, maka tema akan tetap menjadi kata-kata yang indah tetapi jauh dari kenyataan.

Mungkin kita perlu memaknai ulang “partisipasi semesta”. Bukan sekadar ajakan untuk terlibat, tetapi kesungguhan untuk memastikan bahwa setiap pihak benar-benar mampu terlibat secara bermakna.

Karena pendidikan yang bermutu untuk semua tidak lahir dari slogan. Tetapi lahir dari kerja bersama, yang adil, yang berkelanjutan dan tidak meninggalkan siapa pun di belakang.

Jika jawabannya belum, maka perlu disempurnakan bukan semangatnya melainkan sistem yang menopangnya agar benar-benar adil dan bekerja untuk semua. (*)

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version