Sepotong Kue untuk Perempuan yang Menjaga Api

Ramzy 755 Pembaca
4 Menit baca

Padahal bagi saya, setiap piring yang ia sajikan adalah bukti cinta yang bekerja. Setiap rupiah yang ia kumpulkan adalah harga dari keteguhannya menjaga keluarga tetap berdiri.

Malam itu, ketika kue ulang tahun ke-79 dipotong, saya meminta sejenak perhatian para undangan. Bukan untuk pidato panjang. Bukan untuk mengenang kejayaan masa lalu.

Saya mengambil satu potong kue. Lalu melangkah ke arahnya.

Di hadapan para sahabat, saya salami tangannya. Pipinya saya kecup pelan. Ruangan yang tadi riuh mendadak hening—hening yang sarat makna.

Potongan kue itu mungkin tak ada artinya dibandingkan dengan segala pengorbanannya. Ia tak sebanding dengan malam-malam gelisah yang ia lalui. Tak sebanding dengan keberaniannya berdiri di depan rumah, berjualan demi menjaga dapur tetap mengepul.

Namun potongan kecil itu adalah cara sederhana saya mengatakan: terima kasih.

Terima kasih karena tetap tinggal saat dunia terasa pergi.
Terima kasih karena tidak pernah mempermalukan keadaan.
Terima kasih karena percaya, bahkan ketika saya sendiri hampir kehilangan keyakinan.

Hari ini, Pedoman Rakyat berusia 79 tahun. Ia telah melewati pasang surut zaman, seperti juga kami melewati gelombang kehidupan. Dan jika media ini adalah rumah bagi kata-kata, maka perempuan di samping saya adalah rumah bagi jiwa yang nyaris kehilangan arah.

Sepotong kue itu bukan tentang ulang tahun. Ia adalah tentang kesetiaan.
Tentang cinta yang bekerja dalam diam.
Tentang perempuan yang menjaga api, ketika semuanya hampir padam.

Buat istriku tercinta Walasari

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version