Sepotong Kue untuk Perempuan yang Menjaga Api

Ramzy
Ramzy 756 Pembaca
4 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh: Ardhy M Basir

Ahad malam, 1 Maret 2026, di ruang hangat Virendy Cafe Makassar, perayaan HUT ke-79 Pedoman Rakyat mengalir dalam tawa, doa, dan nostalgia. Lilin-lilin kecil berdiri tegak di atas kue ulang tahun, menyala seperti harapan yang tak pernah benar-benar padam.

Namun bagi saya, sepotong kue itu bukan sekadar simbol usia panjang sebuah media. Ia adalah penanda perjalanan sunyi yang pernah kami lalui—saya dan perempuan yang berdiri di samping saya malam itu.

Tahun 2007 menjadi garis patah dalam hidup kami. Saat Pedoman Rakyat mulai tak lagi terbit, mesin-mesin cetak seakan ikut membungkam mimpi. Saya, yang terbiasa hidup dalam riuh redaksi dan bau tinta koran, mendadak berada di titik nol. Tanpa penghasilan. Tanpa kepastian.
Tanpa arah yang jelas.

Di masa itu, harga diri terasa lebih rapuh dari kertas koran yang tak lagi terbit.

Namun di rumah kecil kami, ada satu hati yang tak pernah goyah. Dialah istri saya. Perempuan yang tak banyak bicara tentang kesulitan, tapi diam-diam memikulnya bersama saya. Tanpa keluh. Tanpa malu.

Ketika saya terpuruk, ia tidak menyalahkan keadaan. Ia mencari jalan.

“Kalau tidak ada lagi yang bisa diandalkan, kita jualan saja di depan rumah,” katanya suatu malam, dengan suara yang lebih kuat dari kegelisahan saya.

Maka dimulailah lembaran baru itu. Jualan makanan jadi di depan rumah. Dengan meja sederhana, kompor kecil, dan doa yang tak pernah putus. Ia bangun lebih pagi dari matahari, menyiapkan masakan, melayani pembeli dengan senyum yang sama hangatnya setiap hari.

Usaha itu terus ia lakoni hingga hari ini. Tanpa pernah merasa rendah. Tanpa pernah merasa malu.

Baca juga :  Pj. Bupati Sinjai Tinjau Lokasi Rencana Pembangunan Jembatan di Sinjai Selatan

Padahal bagi saya, setiap piring yang ia sajikan adalah bukti cinta yang bekerja. Setiap rupiah yang ia kumpulkan adalah harga dari keteguhannya menjaga keluarga tetap berdiri.

Malam itu, ketika kue ulang tahun ke-79 dipotong, saya meminta sejenak perhatian para undangan. Bukan untuk pidato panjang. Bukan untuk mengenang kejayaan masa lalu.

Saya mengambil satu potong kue. Lalu melangkah ke arahnya.

Di hadapan para sahabat, saya salami tangannya. Pipinya saya kecup pelan. Ruangan yang tadi riuh mendadak hening—hening yang sarat makna.

Potongan kue itu mungkin tak ada artinya dibandingkan dengan segala pengorbanannya. Ia tak sebanding dengan malam-malam gelisah yang ia lalui. Tak sebanding dengan keberaniannya berdiri di depan rumah, berjualan demi menjaga dapur tetap mengepul.

Namun potongan kecil itu adalah cara sederhana saya mengatakan: terima kasih.

Terima kasih karena tetap tinggal saat dunia terasa pergi.
Terima kasih karena tidak pernah mempermalukan keadaan.
Terima kasih karena percaya, bahkan ketika saya sendiri hampir kehilangan keyakinan.

Hari ini, Pedoman Rakyat berusia 79 tahun. Ia telah melewati pasang surut zaman, seperti juga kami melewati gelombang kehidupan. Dan jika media ini adalah rumah bagi kata-kata, maka perempuan di samping saya adalah rumah bagi jiwa yang nyaris kehilangan arah.

Sepotong kue itu bukan tentang ulang tahun. Ia adalah tentang kesetiaan.
Tentang cinta yang bekerja dalam diam.
Tentang perempuan yang menjaga api, ketika semuanya hampir padam.

Buat istriku tercinta Walasari

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!