Bupati Soppeng H Suwardi Haseng SE, yang hadir bersama Forkopimda, camat, penyuluh pertanian, serta kelompok tani, menegaskan bahwa tanam perdana ini menandai awal transformasi pertanian lokal. “Petani selama ini menghadapi tantangan seperti perubahan cuaca, fluktuasi harga hasil panen, kenaikan harga pupuk, dan keterbatasan tenaga kerja,” ujarnya.
Program PM-AAS hadir sebagai solusi dengan alat tanam modern, drone pertanian, pola tanam baru, serta pendampingan intensif penyuluh. “Teknologi bukan untuk menggantikan petani, melainkan meringankan pekerjaan dan meningkatkan hasil panen,” tambah bupati.
Pada 2025, Soppeng menjalankan program ini di lahan 5 ha di Kecamatan Marioriawa. Tahun 2026, cakupannya melonjak menjadi 120 ha, yakni 100 ha di Liliriaja dan 20 ha di Marioriawa. Bupati mengajak semua pihak, termasuk penyuluh, kelompok tani, pemerintah, dan petani, untuk bersinergi demi keberhasilan program.
Di akhir acara, Kepala BRMP menyerahkan bantuan benih varietas Inpari 48 dan Inpari 32 sebanyak 7,5 ton kepada bupati. Selain itu, pupuk Petroganik dari PT Pupuk Indonesia diserahkan kepada Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Soppeng (TPHPKP). (ard)
