PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Malam itu seharusnya menjadi jeda sunyi sebelum fajar. Di rumah sederhana di Lorong C Malengkeri, hanya ada dua jiwa yang terjaga: Ir. Effendy dan istrinya, A. Mar. Tak ada firasat bahwa dini hari itu akan berubah menjadi ujian hidup yang tak pernah mereka bayangkan.
Ahad, 18/01/2026 sekitar pukul 02.00 dini hari, Pak Effendy terbangun. Nalurinya sebagai muslim membawanya bersiap ke masjid untuk shalat Subuh. Namun Bu Mar, yang masih terjaga, mengingatkan dengan lembut, “Ini baru jam dua. Lebih baik kita shalat Tahajjud dulu.”
Kalimat sederhana itu menjadi awal dari keselamatan—dan juga awal dari peristiwa mencekam.
Di sela-sela keheningan malam, Bu Mar menangkap sesuatu yang janggal. Ada suara percikan kecil dari atas plafon kamar. Bukan suara biasa. Ketika ditelisik, api ternyata sudah menjalar di balik plafon—diduga kuat akibat korsleting listrik.
Api bergerak cepat. Asap hitam segera memenuhi ruangan. Dengan sigap, Bu Mar berusaha mencari MCB untuk memutus aliran listrik di bagian rumah yang terbakar. Sementara itu, mereka berdua bergegas keluar rumah. Namun takdir kembali menguji.
Pintu ruang tamu tak mau terbuka. Grendel sudah dibuka, tetapi kunci tak ditemukan. Ketika ditarik, handel kunci pintu justru terlepas dari pegangannya. Pak Effendy dan Bu Mar terperangkap di dalam rumah yang kian dipenuhi asap pekat dan gas beracun. Ruangan menghitam. Api membesar. Waktu terasa berjalan lambat.
Dalam kepungan asap, Bu Mar berteriak dari jendela meminta pertolongan. Suaranya memecah sunyi lorong. Warga sekitar berdatangan, ingin menolong, namun pintu pagar rumah masih tertutup.
“Tidak digembok! Dorong saja!” teriak Bu Mar dengan sisa tenaga.
Gotong royong warga menjadi penentu. Pintu ruang tamu akhirnya berhasil didobrak. Di tengah kepulan asap dan bara, Pak Effendy dan Bu Mar berhasil dikeluarkan dari rumah. Wajah dan tangan mereka menghitam, namun nyawa selamat.
Api yang berasal dari atas plafon membuat rangka kayu terbakar jatuh ke lantai tanpa menyebar ke rumah tetangga. Sebuah keberuntungan di balik musibah.
Dalam penuturannya, Bu Mar menyampaikan satu hal yang terus mereka jaga malam itu: tidak panik.
“Kami berusaha tetap tenang, karena panik hanya akan menambah stres,” ujarnya.
Rasa syukur menjadi penutup kisah malam panjang itu. Syukur karena mereka berdua selamat. Syukur karena api tidak merembet ke rumah warga lain. Dan syukur atas doa, perhatian, serta kepedulian banyak pihak.
Pak Effendy dan Bu Mar menyampaikan terima kasih atas doa dan keprihatinan yang mengalir. Dari peristiwa ini, mereka berharap ada hikmah yang dapat dipetik: tentang kewaspadaan, ketenangan dalam menghadapi bahaya, dan betapa berharganya solidaritas manusia.
Di Malengkeri, Lorong C, dini hari itu bukan hanya tentang kebakaran. Ia adalah kisah tentang iman, keteguhan, dan tangan-tangan sesama yang hadir tepat saat nyawa dipertaruhkan. ( ab )

