Tanpa Jas, Tanpa Mimbar: Cara Dosen INTI Mensyukuri Usainya Ujian Semester

Ramzy 254 Pembaca
3 Menit baca

Tak jauh dari sana, satu meja panjang dipenuhi aneka hidangan. Udang, ikan bolu bakar, sayur paria, dan beragam lauk lainnya tersaji sederhana, namun cukup untuk menghangatkan suasana. Aroma makanan berpadu dengan tawa ringan yang sesekali pecah dari sudut teras.

Menariknya, siang itu hampir tak terdengar pembahasan soal ujian. Tak ada evaluasi tegang atau laporan resmi. Yang ada hanya cerita lepas, canda ringan, dan kalimat-kalimat syukur. Ujian semester—sebuah perhelatan besar bagi institusi—telah usai sesuai jadwal yang disepakati.

Bagi mereka, keberhasilan itu bukan sekadar soal teknis pelaksanaan yang dinilai sudah baik, tetapi juga tentang kerja sama dan kekompakan yang terjaga. Di tengah kesederhanaan pertemuan itu, tersimpan harapan yang sama: semoga ke depan, INTI bisa melangkah lebih baik lagi.

Di Desa Ujung, tanpa mimbar dan tanpa jas, para pendidik itu mengingat kembali satu hal penting—bahwa di balik rutinitas akademik yang padat, kebersamaan adalah energi yang membuat mereka tetap berdiri dan terus mendidik. ( Ardhy M Basir )

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version