Tanpa Jas, Tanpa Mimbar: Cara Dosen INTI Mensyukuri Usainya Ujian Semester

Ramzy 250 Pembaca
3 Menit baca

PEDOMANRAKYAT, JENEPONTO – Sabtu, 7 Februari 2026, suasana di Desa Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, terasa berbeda. Bukan rapat resmi, bukan pula kegiatan akademik yang kaku. Hari itu, para dosen Institut Turatea Indonesia (INTI) bersama Pembina Yayasan Pendidikan YAPTI Jeneponto memilih berkumpul untuk satu hal sederhana: menghela napas panjang setelah sepekan penuh ketegangan ujian semester.

Desa Ujung bukan lokasi asing bagi keluarga besar INTI. Selain menawarkan suasana yang tenang, tempat ini juga dikenal sebagai “kampus pembantu” INTI, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari kampus induk menuju Kabupaten Bantaeng. Namun kali ini, bukan buku dan lembar soal yang jadi pusat perhatian—melainkan kebersamaan.

Satu per satu dosen tiba lebih dulu di lokasi. Tak lama, Pembina YAPTI Jeneponto, Drs. H. Anwar Rivai, menyusul datang dan disambut hangat. Tak ada protokol berlebihan. Tak ada sambutan resmi. Bahkan tak seorang pun mengenakan jas—sesuatu yang jarang terlihat dalam agenda formal INTI.

Di teras rumah tempat para tamu berkumpul, hanya ada tiga meja. Satu di antaranya meja bulat yang menjadi titik temu obrolan santai. Di sanalah Pembina YAPTI duduk bersama Rektor INTI, Prof. Maksud Hakim, ditemani dua dosen lainnya. Posisi duduk yang setara, tanpa jarak, seolah menegaskan bahwa hari itu bukan tentang jabatan, melainkan tentang rasa syukur.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version