Tanpa Jas, Tanpa Mimbar: Cara Dosen INTI Mensyukuri Usainya Ujian Semester

Ramzy
Ramzy 255 Pembaca
3 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, JENEPONTO - Sabtu, 7 Februari 2026, suasana di Desa Ujung, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, terasa berbeda. Bukan rapat resmi, bukan pula kegiatan akademik yang kaku. Hari itu, para dosen Institut Turatea Indonesia (INTI) bersama Pembina Yayasan Pendidikan YAPTI Jeneponto memilih berkumpul untuk satu hal sederhana: menghela napas panjang setelah sepekan penuh ketegangan ujian semester.

Desa Ujung bukan lokasi asing bagi keluarga besar INTI. Selain menawarkan suasana yang tenang, tempat ini juga dikenal sebagai “kampus pembantu” INTI, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari kampus induk menuju Kabupaten Bantaeng. Namun kali ini, bukan buku dan lembar soal yang jadi pusat perhatian—melainkan kebersamaan.

Satu per satu dosen tiba lebih dulu di lokasi. Tak lama, Pembina YAPTI Jeneponto, Drs. H. Anwar Rivai, menyusul datang dan disambut hangat. Tak ada protokol berlebihan. Tak ada sambutan resmi. Bahkan tak seorang pun mengenakan jas—sesuatu yang jarang terlihat dalam agenda formal INTI.

Di teras rumah tempat para tamu berkumpul, hanya ada tiga meja. Satu di antaranya meja bulat yang menjadi titik temu obrolan santai. Di sanalah Pembina YAPTI duduk bersama Rektor INTI, Prof. Maksud Hakim, ditemani dua dosen lainnya. Posisi duduk yang setara, tanpa jarak, seolah menegaskan bahwa hari itu bukan tentang jabatan, melainkan tentang rasa syukur.

Tak jauh dari sana, satu meja panjang dipenuhi aneka hidangan. Udang, ikan bolu bakar, sayur paria, dan beragam lauk lainnya tersaji sederhana, namun cukup untuk menghangatkan suasana. Aroma makanan berpadu dengan tawa ringan yang sesekali pecah dari sudut teras.

Menariknya, siang itu hampir tak terdengar pembahasan soal ujian. Tak ada evaluasi tegang atau laporan resmi. Yang ada hanya cerita lepas, canda ringan, dan kalimat-kalimat syukur. Ujian semester—sebuah perhelatan besar bagi institusi—telah usai sesuai jadwal yang disepakati.

Baca juga :  Ketua TP PKK Makassar Ajak Pengurus LDII Sukseskan Program Penguatan Keimanan Umat dan Jagai Anakta

Bagi mereka, keberhasilan itu bukan sekadar soal teknis pelaksanaan yang dinilai sudah baik, tetapi juga tentang kerja sama dan kekompakan yang terjaga. Di tengah kesederhanaan pertemuan itu, tersimpan harapan yang sama: semoga ke depan, INTI bisa melangkah lebih baik lagi.

Di Desa Ujung, tanpa mimbar dan tanpa jas, para pendidik itu mengingat kembali satu hal penting—bahwa di balik rutinitas akademik yang padat, kebersamaan adalah energi yang membuat mereka tetap berdiri dan terus mendidik. ( Ardhy M Basir )

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!