Pak Ancu berpulang setelah pasangan Pak SBY-JK terpilih sebagai Presiden-Wakil Presiden. Bahkan, setelah pengumuman kemenangan pasangan ini, Pak Acu telah mengorganisasi sekitar 350 orang relawan Pak SBY-JK untuk mencukur gundul rambutnya. Entah berapa jumlah juru cukur dari sekian banyak salon di Makassar dikerahkan “menyerbu” Kantor NV Haji Kalla guna menghabisi mahkota kepala para relawan yang bernazar itu.
Saya sangat bersedih karena tidak sempat membesuk Pak Acu ketika dirawat di rumah sakit. Juga saat dikebumikan karena saya sedang berada di luar kota dalam waktu yang agak lama.
Namun ketika malam takziah, saya datang dan bertemu dengan istrinya. Seorang wanita yang sangat ramah dan cantik dan kerap tersenyum saat kami bertemu.
“Bu, saya ikut berduka yang mendalam atas kepergian Bapak. Mohon maaf saya tidak sempat membesuk di rumah sakit dan melayat saat Bapak berpulang karena sedang di luar kota,” bisik saya dan tak terasa airmata saya berlinang.
WMD
Ini kenangan dengan Andi Patarai Wawo. Ketika saya menjabat Sekretaris PWI Sulsel (1988-1993), berlangsung kegiatan Wartawan masuk Desa (WMD). Pimpinan Proyek WMD ini adalah M.Jusuf Moha, yang di pengurus PWI Sulsel kala itu menjabat Wakil Sekretaris.
Lokasi WMD ini ada beberapa daerah kabupaten. Seingat saya, salah satu di antara kabupaten itu adalah Luwu (belum dimekarkan waktu itu). Saya termasuk yang mendapat tugas di Luwu bersama Andi Patarai Wawo, Baso Amir, dan Aidir Amin Daud (jika tidak keliru).
Diantar M.Jusuf Moha yang kebetulan juga akan “pulkam”, kami disinggahkan di Cimpu, sebuah desa nelayan yang terletak di Kecamatan Suli. Desa ini kaya akan hasil tangkapan ikan tongkol. Hanya saja masalahnya, belum ada koperasi yang menampung hasil tangkapan mereka.
Ikan-ikan ini lebih banyak jatuh ke tangan para tengkulak yang menerapkan sistem ijon. Membayar semua kebutuhan para nelayan dan membeli hasil tangkapannya dengan harga murah.
Mengetahui permasalahan yang dihadapi para nelayan itu, kami pun sepakat menyampaikan penyuluhan tentang pentingnya pembentukan koperasi di Desa Cimpu. Agenda acaranya dilaksanakan pada malam hari pada sebuah bangunan setengah batu, tidak jauh dari pantai. Kami diantar oleh Kepala Desa yang saya sudah lupa namanya, tetapi merupakan purnawirawan TNI.
Ketika itu, memang banyak pensiunan tentara terjun menjadi kepala desa. Selain untuk memimpin masyarakat dengan penuh disiplin, juga yang tidak kalah pentingnya adalah demi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Andi Patarai Wawo ditunjuk sebagai pembawa materi. Kami memang sudah disuluh di PWI Sulsel dalam berbagai masalah tentang desa sebelum diterjunkan dalam proyek WMD ini.
Termasuk masalah koperasi. Topik-topik itu memang dibahas oleh ‘tim pemikir” PWI Sulsel.
Andi Patarai Wawo yang hingga kini tetap berkumis lebat dan seorang wartawan “penyanyi” legendaris ini, tampil memberikan “tausiah”-nya di depan puluhan masyarakat yang hadir. Tentu saja, di antara yang hadir ada dari kalangan pengusaha lokal.
Pak Andi Patarai Wawo menekankan pentingnya kehadiran koperasi sebagai sokoguru perekenomian masyarakat. Banyak aspek yang dibahasnya. Namun ketika mulai menyebut kata “tengkulak”, saya mencubit pahanya. Pak Andi tidak memahami komunikasi verbal (gestur/bahasa tubuh) yang saya lakukan. Maksud saya, hentikan menyebut “tengkulak” itu karena kami sedang berada di wilayah yang dikuasai mereka.
Meskipun beberapa kali komunikasi verbal saya lakukan, Pak Andi Patarai Wawo tetap bergeming (diam, tidak berubah). Terus saja ‘nrocos’ (bahasa Jawa, artinya, berbicara dengan sangat cepat, tanpa henti, dan mengalir deras). Di tengah kekhawatiran saya yang kian membuncah, dia akhirnya berkata.
“Kami mohon maaf jika apa yang kami sampaikan ini kurang berkenan di hati-hati Bapak-Bapak. Sebab, kami sebagai wartawan hanya memberi edukasi dan informasi saja. Segala sesuatunya sangat bergantung kepada Bapak semuanya,” ucap Andi Patarai Wawo mengakhiri penyuluhannya yang saya rasa juga sebagai hasil ‘cubitan’ saya tadi, meskipun beberapa saat baru direspons.
Setelah penyuluhan itu, pada sebuah rumah kosong setengah batu, tempat kami anggota WMD menginap, kami kembali memperbincangkan penyuluhan yang beraroma “bunuh diri” itu. Yang ironis, semalaman kami tidak bisa tidur. Khawatir ada ‘serangan balik’ dari pihak-pihak yang disentil Pak Andi Patarai Wawo dalam penyuluhannya. Syukur tidak. Kami pun lega, hingga balik ke Ujung Pandang keesokan hari. (*)

