We Love Bulukumba: Kota Itu Kembali Diarsipkan Melalui Zine

Ramzy 226 Pembaca
3 Menit baca

Bulukumba, dalam pandangan Rumah Buku SaESA, bukan sekadar Butta Panrita Lopi. Bukan hanya pantai berpasir putih atau ritual budaya yang difoto dan dipoles dengan filter paling romantis. Kota ini adalah manusia yang menghidupi dan dihidupi ruangnya: nelayan yang pulang saat senja menggantung jingga di laut, percakapan di teras rumah yang tak pernah masuk berita, anak muda yang menyimpan mimpi di balik layar ponsel, hingga mereka yang pernah tinggal lalu pergi dan benar-benar lepas.

Ajakan menulis ini tak membatasi identitas. Tak harus tercatat sebagai warga di kartu tanda penduduk. Siapa pun yang pernah bersentuhan—secara fisik maupun emosional—dipersilakan menulis. Sebab kota, pada akhirnya, adalah milik pengalaman dan ingatan.

Pilihan format zine pun bukan kebetulan. Sebuah medium alternatif yang sejak awal dirawat oleh SaESA dalam mengkampanyekan sekolah tanpa jeda—Meluaskan Kesadaran. Medium independen, dan tak bergantung pada panggung besar. Dari sanalah cerita-cerita kecil menemukan pembacanya tanpa harus menunggu validasi industri.

Di saat banyak daerah sibuk mempromosikan diri melalui grafik pertumbuhan ekonomi dan angka kunjungan wisata, Bulukumba—melalui Rumah Buku SaESA—memilih jalur yang lebih sunyi: mengarsipkan cinta lewat kata, kota, dan kita.

Mungkin memang dari situlah sebuah kota benar-benar lahir kembali. Bukan dari spanduk dan slogan, melainkan dari keberanian untuk ditulis—apa adanya atau ada apanya.( Musakkir Basri )

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version