Berbagai penelitian juga menunjukkan kemungkinan munculnya apa yang dikenal sebagai rebound effect. Ketika seseorang merasa telah “menghemat perjalanan” karena bekerja dari rumah, waktu yang tersedia justru dapat digunakan untuk melakukan kegiatan lain yang juga memerlukan perjalanan. Bisa jadi untuk berbelanja lebih sering, menghadiri kegiatan sosial, atau melakukan berbagai urusan yang sebelumnya tertunda.
Pengalaman sejumlah kota di dunia juga menunjukkan bahwa hubungan antara kerja jarak jauh dan penghematan energi tidak selalu sederhana. Di satu sisi, perjalanan menuju kantor memang berkurang. Namun di sisi lain, konsumsi energi rumah tangga cenderung meningkat karena penggunaan listrik, pendingin ruangan, dan perangkat elektronik selama jam kerja.
Dampak kebijakan WFH terhadap penghematan energi juga sangat dipengaruhi oleh karakteristik kota. Pada kota yang relatif kompak dengan jarak perjalanan yang pendek, pengurangan perjalanan ke kantor mungkin tidak menghasilkan penghematan energi yang terlalu besar. Sebaliknya, pada wilayah metropolitan yang luas dengan pola komuter jarak jauh, perubahan pola kerja dapat membawa dampak yang berbeda.
Pemilihan hari Jumat sebagai hari WFH juga menarik untuk diperhatikan. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, hari Jumat sering kali sudah terasa sebagai pintu menuju akhir pekan. Tidak sedikit orang yang mulai merencanakan perjalanan ke luar kota atau mengunjungi keluarga sejak hari tersebut.
Jika bekerja dari rumah pada hari Jumat memberi keluwesan tambahan, sebagian orang mungkin memilih memulai perjalanan lebih awal. Dalam keadaan seperti ini, pergerakan yang tadinya diharapkan berkurang justru bisa bergeser menjadi perjalanan jarak menengah atau bahkan jarak jauh yang mengonsumsi energi lebih besar dibanding perjalanan rutin ke kantor.
Di luar persoalan pergerakan dan energi, kebijakan WFH juga membawa dampak terhadap cara organisasi bekerja. Dalam praktik sehari-hari, tidak semua pekerjaan dapat dilakukan secara optimal melalui pertemuan daring. Diskusi yang membutuhkan pendalaman gagasan, koordinasi lintas unit, atau proses pengambilan keputusan sering kali berjalan lebih efektif ketika dilakukan secara langsung. Pertemuan tatap muka juga membuka ruang bagi percakapan spontan dan pertukaran gagasan yang sering kali sulit muncul dalam ruang pertemuan virtual.
Pada akhirnya, kebijakan publik yang efektif tidak hanya ditentukan oleh niat baiknya, tetapi juga oleh sejauh mana dapat dipahami perilaku masyarakat yang menjadi sasaran kebijakan. Tanpa pemahaman tersebut, WFH setiap Jumat berisiko hanya menjadi langkah administratif yang tampak menjanjikan di atas kertas, tetapi memberikan dampak yang jauh lebih terbatas dalam kehidupan sehari-hari. (*)

