Keesokan harinya, sebagaimana biasa sebelum pelajaran baru dimulai, sang Guru berkata kepada al-Sakaki, “Wahai al-Sakaki, coba ulangi pelajaran yang telah diberikan kemarin.”
Dengan penuh semangat al-Sakaki berkata, “Anjing berkata: Kulit guru itu menjadi suci dengan cara disamak.”
Tiba-tiba seisi ruangan menjadi riuh dan ramai oleh suara tawa murid lain yang mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh al-Sakaki.
Al-Sakaki merasa malu dan minder dengan kesalahan yang baru saja diucapkannya. Saking malunya, ia berlari meninggalkan sang guru dan murid lain menuju ke sebuah hutan dan berlari ke atas gunung untuk menutupi rasa malu yang sangat mendalam.
Ketika ia tiba di sebuah bukit, ia termenung dengan nasibnya. Di tengah ketermenungannya, tiba-tiba ia menyaksikan tetesan air yang jatuh dari atas sebuah bukit yang mengenai sebuah batu karang yang keras. Dari tetesan air tersebut, nampak beberapa lubang yang menembus batu karang tersebut.
Melihat hal ini, al-Sakaki berkata dalam hati, “Hati dan otakku tidak sekeras batu karang yang ada di hadapanku, lantas kenapa mesti tak bisa ditembus oleh ilmu dan pelajaran?”
Belajar dari yang baru saja disaksikannya, al-Sakaki balik lagi ke sekolah dengan tekad yang bulat untuk belajar dengan lebih giat lagi. Berkat tekad, usaha, dan kerja keras yang dilakukannya, akhirnya Allah SWT membuka pintu ilmu pengetahuan baginya, hingga ia menjadi salah seorang cerdik pandai pada masanya.
Kemarin, tanggal 11 Mei 2022 dan hari ini tanggal 12 Mei 2022, UIN Alauddin Makassar mewisuda alumninya yang baru saja menyelesaikan perkuliahan. Semoga para wisudawan dan kita semua dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang dialami al-Sakaki untuk senantiasa mau belajar dan belajar. Tidak merasa puas dengan apa yang telah diperoleh hari ini. Allah A’lam. ***
Makassar, 12 Mei 2022