Kapolri mengatakan beberapa waktu yang lalu pada lomba menembak dalam rangka menyambut hari Bhayangkara ke-76, media itu selalu bersama-sama kami di lapangan, khususnya penanganan masalah beberapa waktu lalu, yaitu Pandemi Covid-19.
Kemudian, masalah mudik yang mungkin sebagian masyarakat libur, tapi kita semua berada di lapangan, ditengah-tengah masyarakat untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik.
Keberhasilan Polri tidak lepas dari campur tangan Pers. Sebesar 20 persen keberhasilan tersebut karena personel itu sendiri, 20 persen dari keorganisasian, dan 60 persennya lagi melalui publikasi Pers. Sehingga Polri melihat posisi yang strategis dari peran Pers, buntutnya menjadi sesuatu yang tidak mungkin dijauhkan oleh Polri yaitu media.
Polri memiliki kepentingan terhadap perkembangan informasi mengingat tidak jarang aksi-aksi kejahatan maupun hal-hal lain yang dapat memicu keresahan warga kadang muncul lewat media yang berkaitan dengan itu.
Contohnya, keberadaan media sosial yang tidak jarang dapat memicu munculnya persoalan di tengah masyarakat atas informasi yang tidak akurat maupun hoax, klarifikasi dari pihak Polri mengenai berita-berita hoax tentu tidak mudah sampai kepada masyarakat jika tidak dikomunikasikan lewat media massa yang kredibel sebagai penyampai informasi yang aktual dan berdasarkan data.
Dengan seringnya Polri menggelar sharing atau diskusi-diskusi secara intens dengan media, maka pertukaran informasi dari kedua institusi ini bisa berjalan maksimal, sebagaimana yang di gaungkan Kapolri dalam programnya yaitu Presisi. (***)