Hanya Tersisa 250 Ekor di Dunia, Hiu Air Tawar Langka Ditemukan Kolaborasi Unhas di Kaltara!

Ramzy
Ramzy 593 Pembaca
7 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, TARAKAN – Sebuah secercah harapan bagi biodiversitas laut global justru lahir dari riak arus Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Di tengah badai krisis eksistensi satwa laut, tim peneliti Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama James Cook University dan Universitas Borneo Tarakan berhasil mengukir catatan sejarah: menemukan kembali populasi Hiu Gangga (Glyphis gangeticus), predator air tawar legendaris yang sempat di ambang kelenyapan dari peta ekosistem bumi.

Sinyal positif ini langsung memantik perhatian komunitas konservasi internasional. Bagaimana tidak, sejak pergantian milenium pada tahun 2000, eksistensi Hiu Gangga tercatat kurang dari 10 kali di sepanjang jalur migrasi historisnya yang membentang dari Pakistan hingga Myanmar. Fakta miris ini pula yang membuat International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyematkan status ‘Critically Endangered’ (Sangat Terancam Punah) pada spesies ini, menjadikannya salah satu dari lima hiu paling langka di planet kita.

Lompatan besar terjadi pada tahun 2023 ketika ekspedisi sains lintas negara ini turun ke lapangan. Hanya dalam tempo kurang dari tiga minggu, radar penelitian para pakar berhasil mengidentifikasi dan mengamati 43 spesimen Hiu Gangga di aliran Sungai Sesayap. Angka ini seketika menempatkan Kaltara sebagai benteng pertahanan terakhir sekaligus habitat paling krusial di dunia bagi masa depan spesies yang sempat dikira mitos masa lalu tersebut.

Pencapaian ini tidak sekadar menjadi torehan di atas kertas akademik, melainkan manifesto nyata bahwa riset kolaboratif mampu melahirkan keajaiban bagi pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Bagi Unhas sendiri, keberhasilan memimpin misi internasional ini mempertegas positioning kampus dalam memproduksi ‘impactful science’—sains yang bergerak aktif menyelesaikan sengkarut krisis lingkungan di level global.

Baca juga :  Kodam XIV/Hsn Gerak Cepat Penanganan Korban Banjir Bersama Masyarakat di Wilayah Makassar

Komitmen strategis tersebut kemudian dimatangkan dalam forum Workshop on Conservation Planning for the Ganges Shark (Glyphis gangeticus) yang digelar di Universitas Borneo Tarakan baru-baru ini. Agenda krusial ini mengintegrasikan pemikiran para akademisi, otoritas pemerintah, serikat nelayan lokal, hingga aktivis lingkungan untuk merancang cetak biru perlindungan yang tidak menara gading, melainkan membumi dan aplikatif.

Hadir memegang mandat Rektor Unhas, Prof. Rohani Ambo Rappe menggarisbawahi bahwa keterlibatan aktif Unhas merupakan investasi jangka panjang dalam menyokong konservasi maritim yang berkelanjutan. Kemitraan strategis dengan James Cook University yang telah dirajut sejak 2022 ini tidak didesain sekadar untuk memanen data mentah, melainkan ditujukan untuk memformulasikan model perlindungan yang menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama solusi.

“Eksplorasi ini bukan sekadar misi menyelamatkan satu spesies dari kepunahan, tetapi platform untuk menguji bagaimana model konservasi yang berkeadilan dan kolaboratif bisa diterima masyarakat. Oleh karena itu, kami menginisiasi pembentukan konsorsium riset hiu dan pari di Kalimantan agar basis data ilmiah dan kebijakan regulasi bisa berjalan beriringan,” cetus Prof. Rohani optimis.

Gayung bersambut, Dr. Michael Grant selaku representatif peneliti dari James Cook University membawa kabar baik dengan ditetapkannya Sungai Sesayap sebagai ‘Important Shark and Ray Area’ (ISRA) pada tahun 2024. Legitimasi berskala global ini mengukuhkan kawasan perairan Kaltara tersebut sebagai zona pembibitan alamiah (nursery ground) yang sakral bagi keberlangsungan hidup hiu sungai purba ini.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!