Oleh: Muhammad Riska
(Dosen Universitas Negeri Makassar)
Pendidikan kejuruan atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sejatinya dirancang untuk mencetak lulusan yang siap kerja dengan keterampilan teknis yang mumpuni. Namun, ada satu ironi yang kerap ditemui di lapangan: bagaimana siswa dapat terampil jika alat praktik yang tersedia tidak memadai?
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan, setiap satuan pendidikan diwajibkan memiliki sarana dan prasarana yang memadai. Namun, pemenuhan fasilitas tersebut tidak selalu dapat dilakukan dengan mudah. Minimnya sarana maupun kerusakan fasilitas laboratorium membuat banyak peserta didik terpaksa hanya mengandalkan teori tanpa praktik yang memadai. Mereka belajar tanpa kesempatan untuk mengalami secara langsung kondisi yang akan dihadapi di dunia kerja.
Salah satu contoh dapat ditemukan pada jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), yang sangat bergantung pada ketersediaan perangkat keras untuk kegiatan praktik. Fakta di lapangan, seperti yang ditemukan di SMK Negeri 1 Gowa, menunjukkan bahwa peralatan praktik jaringan komputer di laboratorium sebenarnya cukup lengkap, tetapi sebagian besar berada dalam kondisi rusak. Akibatnya, saat menghadapi Ujian Kompetensi Keahlian (UKK), peserta didik sering kali mengalami kesulitan memahami bentuk, fitur, dan fungsi perangkat keras karena jarangnya berinteraksi secara langsung dengan alat tersebut. Di sisi lain, sebagian besar siswa juga tidak memiliki perangkat sendiri di rumah untuk mengulang materi secara mandiri.
Lantas, apakah kita harus menyerah pada keterbatasan fisik dan anggaran pengadaan alat? Tentu tidak. Era digital menawarkan solusi yang menjanjikan melalui teknologi Augmented Reality (AR).

