Perkenalan Penulis dengan perempuan Bali yang ayu ini sudah lama. Mungkin belasan tahun silam. Ketika itu, Penulis berencana menulis kiprah seorang pemukik, Basje, lelaki Ambon kelahiran Makassar yang kemudian memilih berkarier musik di Pulau Bali. Hotel Melasti, termasuk tempat dia menghibur para pengunjung hotel itu.
Di hotel inilah, Penulis berkenalan dengan perempuan bernama lengkap Anak Agung Ayu (AAA) Arina Saraswati Hardy, A.Par., M.M. ini. Dia pemilik hotel itu. Ceritanya, saat itu Ibu Arina, begitu perempuan kelahiran Denpasar, 2 Maret 1972 ini, akrab Penulis sapa, juga ikut menyumbangkan suara merdunya untuk para pengunjung ruang musik hotelnya yang rata-rata disesaki turis asing.
Penulis pun sempat bergambar bersama dengan Ibu Arina. Bermodal foto inilah kami selalu berkomunikasi. Penulis sering menyampaikan selamat merayakan hari-hari besar Hindu, agama yang dianutnya. Ibu Arina pun kadang tak lupa mengirimkan ucapan selamat hari Raya Islam buat Penulis, jika saatnya tiba. Dia selalu menyapa Penulis dengan “Pak Haji”.
Pada tanggal 3 April 2026, Ibu Arina mengirim satu video yang bersumber dari youtube hasil perbincangannya dengan Podcast G-Talk di Bali. Topiknya, “Urus Sampahmu Sendiri”, yang pernah dilontarkan Gubernur Bali Dr.Ir. Wayan Koster, M.M. Gubernur kelahiran Desa Sembilan Buleleng 20 Oktober 1962 dan kader PDI-P ini menempuh kebijakan ini setelah disentil Presiden Prabowo Subianto tentang soal sampah dan menyebut Bali. Instruksi ini sempat menjadi polemik di masyarakat.
Ibu Arina merespons instuksi Gubernur Bali tersebut menekankan perlunya revolusi mental dan perubahan paradigma di tengah kebiasaan masyarakat yang masih belum terbiasa memilah sampah apalagi mengolah sampah secara mandiri.
Pengalamannya ini kemudian membawa Ibu Arina terlibat dalam perbincangan di salah satu podcast G-Talk beberapa waktu yang lalu. Anggota DPRD Provinsi Bali dari Fraksi Partai Golkar periode 2004-2009 yang kini aktif sebagai pegiat lingkungan hidup ini, malah bisa membuat sampah menjadi berkah.
“Saya tidak pilih polemik, tetapi menawarkan paket mengelola sampah secara mandiri,” kata alumnus Program Pascasarjana Konsentrasi Sektor Publik Fakultas Ekonomi Universitas Udayana (Unud) Denpasar Bali ini.
Dari aktivitasnya itu, Arina ingin mengedukasi masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri. Untuk sampai ke sana, Direktur LPK Prshanti Nilayam Kuta ini, tidak baru sekarang bersoal masalah sampah, tetapi sejak menjadi anggota DPRD Provinsi Bali pada tahun 2004. Itulah sebabnya dia mengambil komisi II yang menangani masalah pertanian dan peternakan dan sebagainya.
Dia menginginkan bahwa petani, seperti juga di luar negeri, bisa kaya. Maksudnya, secara finansial mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, sehingga tak perlu ke luar negeri bekerja di kapal pesiar dan sebagainya.
Arina melaksanakan bisnis kecil-kecilan paket mengelola sampah mandiri. Yang lainnya bisa mengelola mesin pengelola sampah, Arina malah memilih mengedukasi masyarakat agar bisa mengelola sampahnya sendiri. Pada saat menjual paket kelola sampah mandiri itu, diikuti dengan pelatihan kepada komunitas, atau boleh juga banjar, juga di pura-pura. Organisasi Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) sempat juga dia melaksanakan kegiatan di Pura Sakenan, menyumbangkan kantong kompos (compos bag), biobakteri dan tanah subur untuk pengelolaan sampah di sana.
“Masyarakat menyambut dengan suka cita dengan menggunakan tempat sampah yang di bawah (biopori) ternyata kurang efektif, karena tidak ada biobakteri. Mereka sangat senang dengan apa yang saya bawa saat itu. Akhirnya berlanjut dengan selalu memantau. Memberikan pelatihan kepada komunitas, terutama untuk rumah tangga karena di situlah sampah yang banyak,” ujar Arina.
Di rumah dalam waktu satu minggu ada 12 kresek sampah. Mereka dilatih dengan memperkenalkan tempat sampah harus disediakan. Di antaranya, ada warna hijau (organik), biru (yang bisa didaur ulang-- resycle), merah (untuk B3), hitam (sampah yang tak bisa didaur ulang sama sekali). Yang diolah adalah sampah organik,” kata Wakil Sekretaris Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) DPD Partai Golkar Bali 2025 - 2030 dan Wakil Sekretaris BPD PHRI Provinsi Bali 2025 -2030 tersebut.
Yang menjadi sampah itulah yang digunakan untuk “urban farming”, kebun perkotaan. Jadi, warga bisa membuat kebun sendiri. Bisa pakai “polibag”, kaleng-kaleng bekas yang kemudian digantung dan menggunakan kompos hasil sampah sendiri. Sampah dari dapur, daun-daunan misalnya.
Paket yang ada dalam pengelolaan Arina adalah “compos bag” (kantong kompos). Satu kantong itu ada bukaan di bawahnya untuk mengetahui apakah sudah menjadi kompos atau belum. Kapasitas kantong bisa 50 liter, 80 liter, dan 200 liter. Namun yang dijual kapasitas 200 liter karena dalam satu minggu saja ada 12 kresek sampah, sehingga diperlukan yang ‘gede’ (besar). Ada juga biobakteri untuk mengurai, kemudian tanah subur (katalisator) untuk membantu mengurai biobakteri tersebut. Setelah melaksanakan pelatihan, sekali seminggu, Arina mengeceknya. Jadi tidak ditinggalkan begitu saja. Sebab, kalau tidak ada yang memulai, siapa lagi yang memulai.
“Ini baru dimulai. Kalau dilatih orang per orang, sangat melelahkan. Jadi lebih baik misalnya dalam satu keluarga atau mengumpulkan mereka yang tokoh-tokoh yang mau belajar. Tidak penting mereka, mau yang punya jabatan, asal mau belajar dan bisa memberikan pelatihan di TP-an itu. Minimal 5 orang dilatih sampai mereka paham dan itu dipantau melalui WA grup bagaimana hasilnya setiap hari hasil kompos tersebut,” sebut Arina.
Dia mengakui masih melakukan “trial and erros” (masih mencoba-coba) mengolah sampah sendiri di rumah tangga. Permasalahan utama sampah itu, ya bau. Susah diolah dan oleh sebab itu, dibutuhkan biobakteri. Masalah terbesar dari sampah itu adalah biobakteri.
Arina mengatakan, saat kompos sudah jadi, kita buatkan saja taman di rumah sehingga melahirkan tanaman buah dalam pot (tabulampot). Kita buatkan saja misalnya tomat dan begitu berbuah kita dapat buah segar. Organik pula, keluarga pun sehat.
“Ini sebenarnya saduran dari pendidikan kesejahteraan keluarga (PKK). Dulu, kan rumah sehat harus halamannya luas, sekarang sudah dipindahkan ke pot. Nanti tanamannya dimanfaatkan di pot itu. Sudah ada contohnya, sehingga saya berani berbicara,” beber Arina.
Menghasilkan biobakteri itu memang sangat lama. Dalam waktu 1-2 bulan, belum tentu dia menjadi kompos. Kompos yang ada setengah jadi, belum menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk tanaman. Jadi itu ada namanya pematangan kompos setengah jadi itu memerlukan waktu sepuluh hari. Ini prosesnya agak lama. Bukan dari hulu ke hilir, melainkan dari hilir ke hulu. Di hulu diajarkan pelatihan. Begitu jadi kompos setengah jadi, kita bawa ke hilir.
“Diberikan pelatihan mengelola sampah, menjadi kompos setengah jadi, kalau di rumah sudah penuh, ini yang sedang dipikirkan untuk membeli mesin yang bisa membuat kompos yang jadi awal dan saya bekerja sama dengan konstituen yang dulu. Dia punya kebun di daerah Tegalalan. Diminta tanahnya untuk jadi “korban” sebagai demonstrasi plot (demplot) dan menggunakan pupuk kompos ini,” sebut Arina panjang lebar.
Prosesnya memang sangat panjang, kata Arina, tapi kalau tidak ada yang memulai, siapa lagi. Untuk membuat kompos setengah jadi itulah, Arina berniat membeli mesin. Caranya supaya masyarakat tidak malas lagi, kalau itu masih berupa sampah basah organik yang belum terurai akan diambil, diurus dulu. Baru diambil kompos setengah jadi. Itulah cara mengedukasi, dan tidak semudah itu.
“Masyarakat itu biasanya setelah ada hasil baru mau ikut, begitu,” ujar Ketua Badan Pemberdayaan UMKM dan Koperasi DPD Partai Golkar Bali 2025 - 2030 dan Ketua Bidang Kemitraan Ikaboga Prov. Bali 2025 - 2030 tersebut.
Konseptor keterampilan yang juga menjadi Juri Jegeg Bungan Desa Kuta (Beauty Peagant) 2015 - 2020 ini, mengatakan, teman-temannya di AMPG sudah sangat responsif terhadap kegiatan pengolahan sampah ini. Sebelum warga membeli, Arina memberi contoh gratis dulu. Pihaknya harus membuat ‘trust” (kepercayaan) warga dulu dan ini memerlukan usaha dan konsistensi yang luar biasa.
“Karena Golkar itu sampai ke akar rumput, banjar-banjar, bukan karena saya dari Golkar, melainkan betul-betul kenyataan seperti itu. Itulah sebabnya sampai sekarang saya tidak pernah pindah ke lain hati. Dari 1999 saya di sini (Golkar) dan sampai detik ini, “kunci perempuan yang memiliki hobi, menari Bali, musik, vokal, dan “urban farming” ini. (mda).

