Dari Reuni Alumni UIN Alauddin di Bima: (2) Prof.Dr.Hamzah Hasan, S.HI: Tendangan Kuda Korban Satu Gigi

Ramzy
Ramzy 683 Pembaca
7 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Jika Hakim Tinggi Drs. H. Syarifuddin, M.H. saat berkuliah di IAIN Alauddin menghindari berpacaran, yang ini justru terbalik. Kalau Syariduddin pantang melakukan pacaran, Hamzah Hasan justru mengakui memiliki banyak pacarnya. Jumlahnya banyak. Hingga kembali ke Bima untuk mencari pasangan hidupnya.
Hamzah Hasan anak sulung dari sembilan bersaudara. Satu meninggal.
“Kepala Kantor Kemenag Kota Bima, H.Mansyur A.Ag., adalah adik saya,” Hamzah Hasan bertutur saat mendapat giliran testimoni pada acara Reuni Lintas Generasi Alumni IAIN (UIN) Alauddin Makassar, 22 Maret 2026 di Kantor Kemenag Kota Bima.

Bisa dibayangkan, orang tuanya yang tidak tamat SDN, kadang-kadang menjadi kusir benhur (sejenis bendi, angkutan antardesa yang dihela seekor kuda). Hamzah Hasan pernah bersekolah di madrasah, PGA dulu sebelum pisah. Kalau libur saat kembali ke Sekuru, desa Kelahirannya di Kecamatan Monta Kabupaten Bima, dia membawa benhur, menggantikan ayahnya. Pulang ke Sekuru membawa benhur memberi kenangan luar biasa bagi Hamzah Hasan.

“Ini ada bekas di bibir, hasil dari tendangan kuda benhur,” selanya sembari menunjuk bagian mulutnya yang sedikit berubah dari bentuknya yang normal.
Hamzah bercerita, biang kejadian ini gegara ada seorang teman mengajak ke Tente, sekitar 3 km dari Sekuru. Hamzah yang belum sempat mencuci muka langsung menuju kandang, tempat kuda penghela benhur diikat di salah satu bagian halaman rumahnya.

“Saya bangun, tidak cucu muka, langsung mengambil kuda di kandang. Satu tendangan, membuat satu gigi saya rontok,” kenang Hamzah Hasan disambut ratusan alumnus dengan tertawa massal.

Prof.Dr. Hamzah Hasan, M>HI (kedua dari kanan). (Foto:mda)

Katanya lagi, jadi begini, karena waktu itu Mantri Kesehatan belum profesional bentuknya (bagian bibirnya) tidak normal. Kalau Mantri Kesehatan-nya profesional, tidak seperti ini. Hamzah Hasan memperlihatkan bibirnya yang sedikit salah model. Namun bagus juga agar menjadi catatan hidup.
Rencana sekolah Hamzah bermula dari seorang teman baik. Waktu itu, Hamzah Hasan kebetulan sebagai Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Dia mengajak Hamzah ke Yogyakarta karena ada Kepala Kantor Depag waktu itu baik sekali dan tidak pernah pisah dengan Hamzah dan teman-teman. Sehingga, sebagian pakaian Hamzah ada pada temannya itu. Dia ingin sekali Hamzah bersama dengan dia ke Yogyakarta.

Baca juga :  Peningkatan Literasi di Kabupaten Enrekang: Sinergi antara Pemerintah dan Media Lokal

“Nak, kalau kamu ke Yogyakarta, siapa yang bisa lihat. Tidak ada keluarga dari Sekuru di Yogyakarta. Kalau di Ujungpandang, banyak. Di Ujungpandang banyak orang,” Hasan, ayah Hamzah menyampaikan kepada anak sulungnya ini.
Akhirnya diputuskan Hamzah ke Ujungpandang dengan sebagian pakaian diboyong temannya yang ke Yogyakarta. Sampai sekarang, temannya itu tidak mau bertemu. Namanya Firdaus. Lantaran tidak jadi ke Yogyakarta, komunikasi keduanya putus sama sekali.
Ketika itu belum ada kapal. Kapal perintis ada gtetapi jadwalnya tidak jelas dan teratur. Kalau dari Makassar kadang-kadang juga ada. Tetapi sebaliknya, dari Bima, jarang diketahui. Apalagi kapal penumpang Pelni. Para mahasiswa Bima nanti “merdeka” dalam urusan transportasi laut setelah KM Kelimutu yang diresmikan di Pelabuhan Tenau Kupang NTT tahun 1986 diresmikan.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!