Dari Reuni Alumni UIN Alauddin di Bima: (2) Prof.Dr.Hamzah Hasan, S.HI: Tendangan Kuda Korban Satu Gigi

Ramzy
Ramzy 687 Pembaca
7 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

“Hampir sama dengan masanya Kak Dahlan. Naik perahu “Sinar Efrata” yang sudah bermesinm” sambung Prof. Hamzah Hasan.
Perahu Motor: sinar Efrata” yang hanya mampu memuat penumpang sangat terbatas, menempuh jarak Bima-Ujungpandang sejauh 225mil (410 km; 1 mil: 1.825m) ditempuh selama dua hari, 28 jam. Kalau KM Kelimutu dengan kecepatan 15 knots per jam, menempuh jarak Makassar-Bima dan sebaliknya dalam waktu 15 jam. Kini KM Tilongkabila menempuh jarak itu selama 18 jam dengan kecepatan 12 knots per jam.

Kapal motor berukuran kecil ini tidak berlabuh di Pelabuhan Soekarno Hatta. Kalau kakak-kakak yang dulu yang menumpang perahu, berlabuh di Pelabuhan Paotere, Ujung Tanah.
Hamzah setiba di Makassar, mendaftar ke Fakultas Syariah, satu fakultas dengan Syarifuddin. Ada juga seorang temannya asal Flores, satu angkatan dengan dia pada tahun 1983. Selesai sarjana muda, para mahasiswa waktu itu mendapat gelar “Bachelor of Arts” (B.A.). Bermodalkan gelar ini mereka sudah bisa melamar pekerjaan. Yang pasti bisa menjadi guru. Tetapi Hamzah langsung melanjutkan pendidikan ke program sarjana lengkap yang kini dikenal dengan Strata satu (S-1), sarjana.
Hamzah tidak pernah memiliki mata kuliah yang tertinggal. Soalnya, dia harus mempertahankan prestasi karena memperoleh beasiswa Supersemar. Itu yang bisa membantu. Ada juga yang dapat Kredit Mahasiswa Indonesia (KMI) dan sampai sekarang ada yang belum lunas kredit itu. Ijazah penerima disimpan sebagai jaminan. Sudah diputihkan oleh pihak Bank, tetapi setahun lalu, Hamzah pergi mengambil ijazahnya karena ditahan di bank. Selesai sarjana tahun 1989. Kemudian dipanggil mengajar di UMI. Tahun 1990 ikut tes dosen dan lulus.

Dia lulus dan ditempatkan di IAIN Alauddin Makassar. Luar biasa. Pernah SK-nya tertunda karena sama nama dengan peserta yang lain. Hamzah juga namanya sudah ada di BKKBN Sulsel. SK Hamzah datang setahun kemudian dan ditempatkan di Makassar.

Baca juga :  Kapolres Yudi Frianto Pimpin Sosialisasi Penyerahan Dipa dan Penandatanganan Pakta Integritas Pagu 2024

“Saya tidak pernah bermimpi bisa mencapai jabatan Profesor. Bahasa Inggris tidak ada. Bahasa Arab pas-pasan. Hanya sedikit bisa memahami teks. Tetapi ada satu yang saya amalkan, belajar berterima kasih kepada orang-orang yang berjasa. Jangan pernah tidur sebelum berterima kasih kepada orang yang berjasa. Terutama kepada kedua orang tua. Itu luar biasa dahsyatnya. Setiap hari itu saya lakukan,” Hamzah Hasan mengenang.

Usulan Profesor Hamzah Hasan hanya berselang satu bulan. Bulan berikut sudah ada penyampaian dari kementerian dia lolos. Hamzah Hasan termasuk yang tercepat menerima informasi bahwa jabatan Guru Besarnya diterima.

“Oleh sebab itu, dia mengingatkan kembali, jangan pernah lupa sekecil apa pun berterima kasih pada orang tua,” kunci Prof Hamzah Hasan kemudian menambahkan, pendamping hidupnya adalah orang Bima, orang Lela Bima, tak mau datang karena bukan alumnus IAIN Alauddin. (Bersambung*).

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!