AAA Arina Saraswati Perempuan Ayu yang Mau Urus Sampah

Ramzy
Ramzy 764 Pembaca
9 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Perkenalan Penulis dengan perempuan Bali yang ayu ini sudah lama. Mungkin belasan tahun silam. Ketika itu, Penulis berencana menulis kiprah seorang pemukik, Basje, lelaki Ambon kelahiran Makassar yang kemudian memilih berkarier musik di Pulau Bali. Hotel Melasti, termasuk tempat dia menghibur para pengunjung hotel itu.
Di hotel inilah, Penulis berkenalan dengan perempuan bernama lengkap Anak Agung Ayu (AAA) Arina Saraswati Hardy, A.Par., M.M. ini. Dia pemilik hotel itu. Ceritanya, saat itu Ibu Arina, begitu perempuan kelahiran Denpasar, 2 Maret 1972 ini, akrab Penulis sapa, juga ikut menyumbangkan suara merdunya untuk para pengunjung ruang musik hotelnya yang rata-rata disesaki turis asing.

Penulis pun sempat bergambar bersama dengan Ibu Arina. Bermodal foto inilah kami selalu berkomunikasi. Penulis sering menyampaikan selamat merayakan hari-hari besar Hindu, agama yang dianutnya. Ibu Arina pun kadang tak lupa mengirimkan ucapan selamat hari Raya Islam buat Penulis, jika saatnya tiba. Dia selalu menyapa Penulis dengan “Pak Haji”.
Pada tanggal 3 April 2026, Ibu Arina mengirim satu video yang bersumber dari youtube hasil perbincangannya dengan Podcast G-Talk di Bali. Topiknya, “Urus Sampahmu Sendiri”, yang pernah dilontarkan Gubernur Bali Dr.Ir. Wayan Koster, M.M. Gubernur kelahiran Desa Sembilan Buleleng 20 Oktober 1962 dan kader PDI-P ini menempuh kebijakan ini setelah disentil Presiden Prabowo Subianto tentang soal sampah dan menyebut Bali. Instruksi ini sempat menjadi polemik di masyarakat.

Ibu Arina merespons instuksi Gubernur Bali tersebut menekankan perlunya revolusi mental dan perubahan paradigma di tengah kebiasaan masyarakat yang masih belum terbiasa memilah sampah apalagi mengolah sampah secara mandiri.
Pengalamannya ini kemudian membawa Ibu Arina terlibat dalam perbincangan di salah satu podcast G-Talk beberapa waktu yang lalu. Anggota DPRD Provinsi Bali dari Fraksi Partai Golkar periode 2004-2009 yang kini aktif sebagai pegiat lingkungan hidup ini, malah bisa membuat sampah menjadi berkah.

Baca juga :  Cegah Laka Lantas, Satlantas Polres Pelabuhan Makassar Rutin Pengaturan Malam Hari

“Saya tidak pilih polemik, tetapi menawarkan paket mengelola sampah secara mandiri,” kata alumnus Program Pascasarjana Konsentrasi Sektor Publik Fakultas Ekonomi Universitas Udayana (Unud) Denpasar Bali ini.
Dari aktivitasnya itu, Arina ingin mengedukasi masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri. Untuk sampai ke sana, Direktur LPK Prshanti Nilayam Kuta ini, tidak baru sekarang bersoal masalah sampah, tetapi sejak menjadi anggota DPRD Provinsi Bali pada tahun 2004. Itulah sebabnya dia mengambil komisi II yang menangani masalah pertanian dan peternakan dan sebagainya.

Dia menginginkan bahwa petani, seperti juga di luar negeri, bisa kaya. Maksudnya, secara finansial mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, sehingga tak perlu ke luar negeri bekerja di kapal pesiar dan sebagainya.
Arina melaksanakan bisnis kecil-kecilan paket mengelola sampah mandiri. Yang lainnya bisa mengelola mesin pengelola sampah, Arina malah memilih mengedukasi masyarakat agar bisa mengelola sampahnya sendiri. Pada saat menjual paket kelola sampah mandiri itu, diikuti dengan pelatihan kepada komunitas, atau boleh juga banjar, juga di pura-pura. Organisasi Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) sempat juga dia melaksanakan kegiatan di Pura Sakenan, menyumbangkan kantong kompos (compos bag), biobakteri dan tanah subur untuk pengelolaan sampah di sana.

“Masyarakat menyambut dengan suka cita dengan menggunakan tempat sampah yang di bawah (biopori) ternyata kurang efektif, karena tidak ada biobakteri. Mereka sangat senang dengan apa yang saya bawa saat itu. Akhirnya berlanjut dengan selalu memantau. Memberikan pelatihan kepada komunitas, terutama untuk rumah tangga karena di situlah sampah yang banyak,” ujar Arina.

Di rumah dalam waktu satu minggu ada 12 kresek sampah. Mereka dilatih dengan memperkenalkan tempat sampah harus disediakan. Di antaranya, ada warna hijau (organik), biru (yang bisa didaur ulang– resycle), merah (untuk B3), hitam (sampah yang tak bisa didaur ulang sama sekali). Yang diolah adalah sampah organik,” kata Wakil Sekretaris Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) DPD Partai Golkar Bali 2025 – 2030 dan Wakil Sekretaris BPD PHRI Provinsi Bali 2025 -2030 tersebut.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!