Oleh: Ridwan F Rasyid
Mangara Jazz Project, akhir 2025, merilis satu album rekaman. Album berisi lagu-lagu Bugis Makassar. Melegenda. Memantik kerinduan. Dikemas dalam judul The Sounds of Makassar.
Sailong, Ho Eng Djie; Bolikamma Sanova (Bolima Kamma Salassa), Abidin Syam; Mammiri De Wind (Anging Mammiri’), Bora Dg Irate; Atirajazz (Ati Raja), Ho Eng Dji; dan Padduppa Dance (Tari Padduppa) – no name, deretan lima di antara 10 lagu-lagu yang mengisi The Sounds of Makassar, dalam medium kepingan cakram kompak produksi Devian Records, Jakarta.
10 lagu, semua membubuh rasa rindu. Namun ada satu nomor yang benar-benar mengharu biru. Ia, adalah Anakkukang Blues (Anak Kukang, Bora Dg Irate, tanpa tahun).
/aku adalah seorang yatim/
yang dibuang ke laut/kudihanyutkan ke sungai/dan dipungut oleh orang lain/sewaktu aku bayi/ibuku lah membuangku/kini daku sebatang kara/berlinanglah air mataku/duhai, sungguh malang nasib seorang yatim/inilah nasib yang harus aku hadapi/terduduk dalam kesengsaraan/
Ini, terjemahan bebas lirik Anak Kukang itu.
Sebatang kara.
Hidup terbuang.
Tanpa sanak saudara.
Dan sengsara…
Tema lagu yang, tidak cuma “mengeksploitasi” kerinduan. Tapi juga sekaligus kekesengsaraan. Kerinduan dan kesengsaraan yang tiada tara. Rindu dan sengsaranya anak yatim yang terbuang. Sangat jauh beda, dengan Mother, How Are You Today, Maywood. Atau Titip Rindu buat Ayah, Ebiet G Ade, misalnya.
