Dalam pandangannya, kondisi ini menunjukkan bahwa ruang informasi saat ini tengah menghadapi tantangan serius. Karena itu, ia mendorong wartawan senior untuk tampil sebagai penyeimbang sekaligus penjaga akurasi informasi.
Selain itu, Bamsoet juga menyoroti menguatnya politik identitas yang dinilai berpotensi memecah belah masyarakat. Isu-isu berbasis agama, etnis, dan kelompok sosial kerap dimanfaatkan dalam kontestasi politik, sehingga mempersempit ruang dialog yang sehat.
Ia menekankan bahwa media memiliki posisi penting dalam situasi tersebut. Pers, menurutnya, harus mengambil peran aktif dalam meredam konflik, bukan justru memperuncing perbedaan melalui pemberitaan yang bias.
“Media harus berada di garis depan dalam menjaga persatuan, bukan terjebak dalam narasi yang memicu perpecahan,” tegasnya. ( ab/r )

