Sementara itu, Rektor INTI Jeneponto, Prof. Maksud Hakim, dalam sambutannya menegaskan bahwa KKN Berdampak bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan bentuk nyata pengabdian yang harus meninggalkan jejak.
“KKN ini bukan hanya tentang hadir di tengah masyarakat, tetapi bagaimana mahasiswa mampu menciptakan perubahan. Kita ingin program ini benar-benar berdampak—ada UMKM yang naik kelas, ada ekonomi lokal yang bergerak, dan ada kepercayaan masyarakat yang tumbuh terhadap peran kampus,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Ketua Yayasan YAPTI, Maysir Yulanwar, yang menekankan pentingnya sikap adaptif dan kepekaan sosial mahasiswa selama berada di lokasi KKN.
“Mahasiswa harus mampu membaca kebutuhan masyarakat. Jangan datang dengan program yang kaku, tetapi hadir dengan pendekatan yang membumi. Pemberdayaan UMKM itu bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal membangun kepercayaan dan kemandirian masyarakat,” ungkapnya.
Pelepasan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi penanda bahwa kampus tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan denyut kehidupan masyarakat. Dari Jeneponto, harapan itu dikirim bersama langkah 202 mahasiswa—membawa ilmu, semangat, dan tekad untuk memberi arti.
Kini, perjalanan mereka dimulai. Dari kampus ke desa, dari teori ke praktik, dari wacana ke dampak nyata. (Ardhy M Basir)

