Di balik ambisi prestasi, terselip pesan yang lebih dalam: silaturahmi. Dr. Abdi mengingatkan agar seluruh peserta menjadikan Porsenijar sebagai ruang mempererat persaudaraan antaranggota PGRI. Arena pertandingan boleh panas, tetapi hati tetap teduh oleh rasa kebersamaan.
Porsenijar tahun ini memang terasa istimewa. Ajang ini mempertandingkan 8 cabang olahraga—bulutangkis, futsal, tenis meja, catur, takraw, bola voli, petanque, serta domino yang tampil sebagai laga eksebisi. Sementara itu, 7 cabang seni seperti MTQ, melukis, ikrar guru, mendongeng, menyanyi, paduan suara, dan tari tunggal turut memeriahkan suasana. Bahkan, satu cabang pembelajaran yang baru digelar tahun ini menandai semakin luasnya ruang ekspresi para pendidik.
Pembukaan kegiatan ini juga dihadiri Kepala BBGTK Sulsel Dr. Arman Agung, S.Pd., M.Pd., jajaran kepolisian setempat, serta perwakilan Dinas Pendidikan Kota Makassar. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa Porsenijar bukan sekadar agenda internal organisasi, melainkan perayaan semangat guru dalam membangun kebersamaan, kesehatan, dan kreativitas.
Di lapangan itulah, guru-guru menunjukkan wajah lain: kompetitif namun tetap bersahabat. Dan di antara sorak sorai itu, pesan Dr. Abdi bergema—prestasi harus dijaga, tetapi persaudaraan adalah juara yang sesungguhnya. ( Ardhy M Basir )

