Dari Reuni Alumni UIN Alauddin di Bima: (3) IAIN Bima Sentrum baru Pembangunan

Ramzy
Ramzy 809 Pembaca
9 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Catatan M.Dahlan Abubakar

Lahir di Rupe, Karumbu, 5 Januari 1968, bungsu dari tujuh bersaudara ini buah hati pasangan Yasin (alm) dengan Hj Sofia. Ayah dua orang anak bersama sang istri Hj Misfalah ini saat kecil hanya menerima dua pesan dari sang ayah. Belajar yang rajin dan sabar.

Modal itulah yang mengantar Muhammad Yasin memasuki SDN 2 Rupe, MTsain Karumbu hingga Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Bima. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan S-1 pada tahun 1992 di IAIN Alauddin Ujungpandang.
Kalau cerita masa lalu, saya kira-kira mirip-mirip, kecuali yang di sebelah saya sama, orang tua Pak Muhammad juga tidak bersekolah dan lahir di desa Rupe. Tetapi saya berkeyakinan bahwa untuk menikmati pendidikan itu adalah milik semua warga negara. Saya sebenarnya tidak bisa kuliah, tetapi karena waktu di Alyah itu juara umum, ujian di kelas 3 juara umum, kakak saya mengatakan, “saya yang membiayai kuliahnya”. Alhamdulillah bisa berkuliah dan mengambil Jurusan Bahasa Inggris dan selesai kuliah, oleh Prof. Azhar Arsyad, Ketua Prodi Bahasa Inggris IAIN Alauddin, meminta mengajar di Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin.
Muhammad Yasin juga meraih gelar master di Syracuse University, AS, di samping mengikuti pendidikan di Queensland Australia.

Kemudian ada tes penerimaan dosen di Tarbiyah dan lulus. Tetapi kebetulan ditempatkan di Kendari. Namun di sana tidak tahan karena cukup jauh. Akhirnya, Muhammad berangkat sekolah S-2 di Malang dengan beasiswa IPPS. Kalau sendiri tidak mampu. Tetapi saya yakin, bersekolah itu bisa apakah dengan biaya sendiri atau beasiswa. Muhammad pokoknya belajar sebaik-baiknya dengan memperoleh beasiswa.
Selesai S-2 di Malang, Muhammad mengajukan pindah ke UIN Mataram diantar oleh Adinda Prof. Kadri. Akhirnya diterima pindah ke UIN Mataram. Pada tahun 2001, mengikuti tes untuk mengikuti pendidikan S-3 di Jakarta dengan beasiswa dan alhamdulillah dapat.

Baca juga :  Dewan Pendidikan Bone Gelar Penguatan Kapasitas Pengurus Sekolah

Pada proses S-3 di Jakarta, Muhammad mencoba -- karena S-1 Bahasa Inggris -- berkeyakinan kalau tidak bisa lolos ke luar negeri, artinya tidak bisa bahasa Inggris. Akhirnya mencoba mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa Fullbright untuk mengambil S-2 yang kedua dan lulus. Dan mengambil Internasional Design an Evaluation di salah satu perguruan tinggi di New York, AS. Sepulang dari AS, Muhammad mau menyelesaikan S-3. Pak Rektor waktu itu mengatakan, bantulah saya dulu. Muhammad dipilih menjadi Pembantu Rektor III UIN Mataram.

Setelah itu, Muhammad tidak bisa menyelesaikan S-3 karena diminta menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah. Ketua LPT yang menangani sertifikasi guru-guru itu. Yang membuat Muhammad selalu berpikir, orang Bima ini di luar maha bintang. Ada jenderal, ada yang Ketua MK, dan ada yang Profesor, tetapi -- maaf -- kayaknya kita ini banyak menjadi “menara gading”. Dia besar dirinya sendiri.

Akhirnya, kami pada bulan September 2019, kawan-kawan Bima Dompu di Mataram berkumpul di ruang kerja Prof. Muhammad Nasir, Wakil Rektor III Unram, saya izin dengan Prof. Ahmad Thib Raya, membicarakan pendirian perguruan tinggi negeri di Bima. Disepakati ada dua perguruan tinggi yang akan didirikan, yaitu IAIN dan Politeknik Pertambangan Negeri di Bima. Untuk IAIN, Muhammad dipercayakan sebagai Ketua Komite. Untuk Politeknik Pertambangan dipercayakan kepada Pak Haji Arsyad Gany.

Sekembali ke rumah, Muhammad berpikir, biaya dari mana? Sumber daya dan seterusnya. Orang pertama yang Muhammad panggil adalah istrinya. Kebetulan istrinya mantan anggota DPRD Provinsi NTB, 2019 masih.

“Saya masih ada tabungan nggak?,” Muhammad bertanya.
“Ada! Sisa Rp 500 juta,” jawab istrinya, Muhammad menirukan jawaban istrinya disertai memohon maaf.

Dengan modal itu, komite ini bekerja dan biaya dari pemerintah dan seterusnya tidak ada. Kami membuka 9 program studi (prodi) dan pada 2021 kesembilan prodi itu sudah diakreditasi oleh BAN PT. Salah seorang asesornya Prof. Dr. Muslimin H. Kara, M.Ag. Beliau Profesor di Prodi Perbankan Syariah, Ada tadris Bahasa Inggris, Pendidikan Islam, dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kemudian desain untuk Fakultas Syariah, dan Bisnis Islam, Hukum Keluarga, dan ada Hukum Perbankan dan Hukum Ekonomi Syariah. Untuk fakultas lain, Dakwah dan Usuluddin ada KPI, dan ada Ilmu Quran dan Tafsir. Ini sudah diakreditasi dan layak beroperasi pada tahun 2021.

Baca juga :  Sekda Pinrang Buka Pekan Raya Pinrang 2022

Kendala waktu itu adalah lahan. Lahan di Kota Bima sampai saat ini belum selesai. Akhirnya, waktu pilkada yang lalu, setelah pendaftaran di KPU, Muhammad tiba-tiba ditelepon oleh seseorang yang tidak dia kenal. Ada sampai lima kali. Namanya Adi Mahyudi. Muhammad bertanya pada istrinya, “siapa ini?”.
“Calon bupati,” istrinya menjawab.
Akhirnya dia menelepon,
“Prof, katanya Prof masih kesulitan lahan untuk pendirian Kampus Perguruan Tinggi Negeri. Mohon doakan saya menang. Nanti kalau saya jadi bupati, Pemda Kabupaten Bima akan menghibahkan lahan,” kata Adi Mahyudi seperti ditirukan Muhammad yang kemudian terus berdoa seusai salatnya.
Sehari sebelum rakor di Jakarta ada pertemuan dan dinarasikan ada rencana perguruan tinggi negeri baru. Progresnya luar biasa dan jika mau mengikuti perkemnangannya bisa di facebook Prof.Muhammad. Perkembangan IAIN Bima pasti diunggah di facebook.

Sekarang ini sedang izin prodi. Dari 9 prodi yang sudah diakreditasi oleh BAN PT itu, Insha Allah akan segera direkomendasikan oleh Dirjen Pendidikan Islam Kemenag. Setelah itu akan berproses ke MenPAN RB. Semua dokumen akademiknya sudah disiapkan. Jadi ada 9 borang prodi dan satu borang institusi, ada akademik, dan ada statuta. Itu dikerjakan secara mandiri.

Insha Allah pada bulan April akan dikirim ke MenPAN RB dibahas dan disetujui organisasinya. Rektor dan wakil rektornya siapa. Di bawah kepala biro dan kepala bagiannya berapa. Setelah disetujui di situ baru diajukan ke Mensesneg untuk diserahkan ke Presiden untuk izin institusi.
Pada waktu yang lalu setelah menyerahkan sertifikat atas nama Kementerian Agama ke Sekjen, besoknya Pak Menteri langsung melapor ke Komisi VIII DPR RI bahwa ada dua PT IAIN akan didirikan di Indonesia, yakni IAIN Bima dan IAIN. Moho doa restu kita semua agar ini bisa berjalan lancar dan cepat diterima oleh pemerintah.

Baca juga :  Harga iPhone 16 Terbaru dan Spesifikasinya: Semua yang Perlu Anda Ketahui

Dari kami sembilan tim inti, ada akta notaris, 4 di antaranya alumni IAIN Alauddin. Profl Thib Raya, Prof. Muhammad, Prof. Syarifuddin, dan Dr. Imran Rosadi dari Simpasai yang Hakim. Ada lima yang lain yang menjadi tim inti di akta notaris sebagai pendiri IAIN Bima. Mudah-mudahan tahun ini bisa keluar izin, paling tidak kita bisa menerima mahasiswa baru dengan jalur mandiri.

Yang tadi, “menara gading” yang banyak itu, kan kita masing-masing berjuang sendiri-sendiri, sesuai keahlian masing-masing, maka Bima Dompu ini akan maju. Ahli di bidang pendidikan, bergerak di bidang pendidikan, yang ahli di bidang ekonomi buat prodi pengembangan ekonomi, peternakan, dan sebagainya seperti itu yang harus kita lakukan ke depan.

Insha Allah Prof. Muhammad yakin IAIN Bima akan menjadi sentrum baru bagi pembangunan. Di desa Sondosia, ada bekas Gedung Fakultas Vokasi Unram di sana seluas 9,6 hektare. Beberapa waktu yang lalu, ada juga kawan Prof Muhammad yang mengontaknya untuk menghibahkan 4 hektare di desa Pandai. Untuk UIN ke depan syarat minimalnya 10 hektare. Untuk UIN ke depan dengan areal 13,6 hektare ini, sudah memenuhi.

Ketika itu disampaikan ke Pak Bupati, Prof, Muhammad menanyakan, memang ada lahan Pak Bupati?

“Kalau Prof minta untuk membangun rumah, tidak ada. Tetapi untuk membangun lokasi pendidikan, ada,” kata Adi Mahyudi. (Bersambung-mda).

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!