PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan capaian swasembada pangan Indonesia didasarkan pada data kredibel yang diakui secara internasional, bukan sekadar klaim sepihak pemerintah.
Penegasan itu disampaikan saat menjadi keynote speech pada Musyawarah Besar Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) di Hotel Four Points, Jalan A Djemma, Makassar, Sabtu (2/5/2026).
Di hadapan ratusan alumni dan tokoh nasional, Amran menjelaskan, keberhasilan tersebut merujuk pada data dari lembaga resmi seperti Badan Pusat Statistik (BPS), FAO, serta Departemen Pertanian Amerika Serikat.
Menurutnya, pengakuan dari lembaga-lembaga tersebut menjadi dasar kuat, capaian swasembada Indonesia tidak bisa diperdebatkan secara subjektif.
Ia menyebutkan, upaya mewujudkan swasembada pangan merupakan tanggung jawab besar yang harus dijawab melalui kerja nyata dan terukur. Target yang semula diproyeksikan selama empat tahun, kata dia, mampu dipercepat hanya dalam waktu satu tahun.
Amran juga menyoroti masih adanya kekeliruan pemahaman di masyarakat terkait istilah swasembada pangan, ketahanan pangan, dan kedaulatan pangan. Ia menegaskan, ketiga konsep tersebut memiliki makna berbeda dan tidak dapat disamakan.
Dalam pengertian internasional, lanjutnya, swasembada pangan tidak berarti tanpa impor sama sekali. Mengacu pada standar FAO, suatu negara masih dikategorikan swasembada apabila impor pangan strategis berada di bawah 10 persen dari total kebutuhan nasional.
Sementara itu, ketahanan pangan memiliki cakupan lebih luas, yakni terpenuhinya kebutuhan pangan baik melalui produksi dalam negeri maupun impor. Adapun kedaulatan pangan berkaitan dengan kemampuan negara dalam mengelola sistem pangan secara mandiri.
Sebagai indikator capaian, Amran mengungkapkan stok beras nasional pada April 2026 mencapai 5 juta ton, yang disebutnya sebagai angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Capaian tersebut melampaui kondisi masa lalu yang berada di kisaran 2,75 juta ton.
Selain itu, peningkatan kesejahteraan petani juga tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 125,35 atau tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Sektor pertanian pun mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,74 persen pada 2025, tertinggi dalam 25 tahun.
Ia menambahkan, kebijakan pengendalian impor beras turut berdampak pada pasar global. Penghentian impor dalam jumlah besar oleh Indonesia disebut berkontribusi pada penurunan harga beras dunia secara signifikan.
Di balik capaian tersebut, Amran mengungkapkan adanya kerja keras intensif seluruh jajaran Kementerian Pertanian yang berlangsung tanpa hari libur selama setahun.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengisahkan tantangan saat diminta Presiden untuk mempercepat target swasembada. Meski dihadapkan pada tekanan, ia menyatakan tetap berkomitmen menyelesaikan amanah tersebut.
Amran menegaskan, swasembada pangan bukan semata capaian angka, melainkan fondasi penting bagi kedaulatan bangsa. Ia pun mengajak seluruh alumni Unhas untuk terus berkontribusi memperkuat posisi Indonesia sebagai negara berdaulat di sektor pangan. (Hdr)

