PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR - Momentum Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah menjelma lebih dari sekadar perayaan bagi keluarga besar Muhammad Basir, ia hadir sebagai ruang pulang, tempat rindu-rindu lama menemukan pelukannya, dan kebersamaan kembali ditenun dalam kehangatan yang nyaris tak terucap. Dalam balutan suasana yang akrab dan penuh cinta, nilai kepedulian dan persatuan terasa mengalir begitu alami, seperti warisan sunyi yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Keluarga besar EMBAS, nama yang akrab dan sarat makna datang dengan langkah ringan namun hati yang penuh. Di kediaman Eka Oktavia Arifien Basir, di Jalan Baji Rupa, Makassar, pada Senin (23/3/2026), waktu seakan melambat, memberi ruang bagi tawa, cerita, dan kenangan untuk saling bertaut. Dari berbagai penjuru, mereka berkumpul, membuktikan bahwa jarak hanyalah jeda, bukan pemisah.
Di antara yang hadir, tampak Ardhy M. Basir, Pemimpin Umum Pedoman Rakyat, yang membawa serta jejak nilai dan keteladanan dari sang ayah, almarhum M. Basir. Sosok yang dikenang bukan hanya sebagai tokoh pers, tetapi sebagai pribadi yang sederhana, religius, dan berpikiran luas. Dalam diamnya, tersimpan gagasan besar yang pernah memberi warna bagi perjalanan Makassar dan Indonesia Timur.
Kehadirannya seperti jembatan antara masa lalu dan masa kini, menghidupkan kembali semangat yang dulu ditanamkan, sekaligus menegaskan bahwa nilai perjuangan dan integritas tak pernah benar-benar usai, melainkan diwariskan dalam diam dan tindakan.
“Idulfitri bukan hanya tentang kembali ke titik awal, tetapi tentang merawat hubungan yang sering kali terlupa,” tuturnya, lirih namun sarat makna. Baginya, keluarga adalah ruang pertama tempat manusia belajar tentang cinta, tentang memahami, dan tentang bertahan di tengah derasnya perubahan zaman.
Ia pun mengenang sang ayah sebagai sosok dengan idealisme yang tak mudah goyah. Pada 1957, M. Basir memilih meninggalkan kenyamanan sebagai pegawai Imigrasi Makassar demi menapaki jalan yang lebih sunyi, membangun Pedoman Rakyat sebagai pemimpin redaksi dan pemegang saham. Dari tangan dinginnya, lahir nama-nama besar yang kelak menjadi penopang dunia jurnalistik.
“Bagi banyak orang, beliau adalah pemimpin redaksi. Tapi bagi kami, beliau adalah guru yang mengajar bukan lewat kata, melainkan teladan,” kenangnya, dengan sorot mata yang menyimpan kekaguman sekaligus kerinduan.
Namun jejak M. Basir tak berhenti di dunia pers. Ia juga menggoreskan perannya dalam wajah kota, bekerja bersama Wali Kota Makassar saat itu, Patompo, merancang patung, taman, hingga ikon seperti Tanggul Patompo. Bahkan sentuhan karyanya menjangkau ranah militer, menghiasi lambang Kodam XIV/Hasanuddin dan Kodam XII/Wirabuana, sebuah dedikasi yang berbuah penghargaan pada 2 Mei 1985.
Di sisi lain, Eka Oktavia Arifien Basir, sebagai tuan rumah sekaligus penggerak acara, memandang momen ini dengan rasa syukur yang mendalam. Baginya, kehadiran keluarga bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan bukti bahwa ikatan batin masih terjaga, meski waktu dan kesibukan kerap mencoba mengikisnya.
“Selama kita masih saling mencari, saling menyapa, berarti keluarga ini masih hidup,” ujarnya penuh harap.
Ia percaya, momentum ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi ruang penting untuk menanamkan nilai-nilai kebersamaan kepada generasi muda agar mereka tak hanya mengenal asal-usulnya, tetapi juga memahami arti menjaga.
Di penghujung acara, yang tersisa bukan hanya foto-foto kebersamaan atau jejak langkah di halaman rumah melainkan rasa, rasa bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar: sebuah keluarga yang dibangun atas dasar saling menghargai, kepedulian, dan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Dan dari sanalah, harapan itu terus tumbuh: pelan, namun pasti, bahwa semangat kebersamaan ini akan terus menyala, menerangi langkah generasi berikutnya dalam menjaga keutuhan, bukan hanya sebagai keluarga, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. (*Rz)


