PEDOMANRAKYAT, PANGKEP - Di tengah kecemasan dan doa yang tak putus dipanjatkan, sebuah kepedulian datang menyapa Posko Tim Pencarian Korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di wilayah Kabupaten Pangkep.
Selasa, 20 Februari 2026, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Pangkep dan Maros hadir bukan sekadar membawa bantuan sembako, tetapi juga menyampaikan pesan kemanusiaan: bahwa para petugas di lapangan dan keluarga korban tidak sendiri menghadapi masa sulit ini.
Ketua PSMTI Pangkep Iwan Cahyadi dan Ketua PSMTI Maros Jemmy Tjioe datang langsung ke posko pencarian. Dengan wajah yang menyiratkan empati mendalam, keduanya menyerahkan bantuan sebagai bentuk dukungan moril dan penyemangat bagi tim Satgas yang siang dan malam berjibaku menembus medan berat demi menemukan para korban.
“Bantuan ini mungkin tidak seberapa nilainya, tetapi kami ingin para petugas tahu bahwa masyarakat bersama mereka. Kami mendoakan agar pencarian berjalan lancar dan korban yang belum ditemukan bisa segera ditemukan, semoga dalam keadaan hidup dan selamat,” ujar Iwan Cahyadi dengan nada lirih namun penuh harap.
Bagi para relawan dan petugas SAR, dukungan semacam ini menjadi energi tambahan. Di balik helm dan seragam lapangan, mereka juga manusia—yang lelah, yang rindu keluarga, namun tetap bertahan demi kemanusiaan.
Senada dengan itu, Jemmy Tjioe menegaskan bahwa kehadiran PSMTI merupakan wujud solidaritas lintas suku, agama, dan latar belakang. Tragedi ini, kata dia, adalah duka bersama.
“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung proses pencarian, menjaga persatuan, dan memperkuat empati. Di saat seperti inilah nilai kemanusiaan diuji dan harus kita jaga bersama,” tutur Jemmy.
Kepada keluarga korban yang telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, PSMTI Pangkep dan Maros menyampaikan duka cita mendalam. Doa dipanjatkan agar para almarhum dan almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan menerima cobaan berat ini.
Di tengah awan duka yang menyelimuti Pangkep, kehadiran PSMTI menjadi pengingat sederhana namun bermakna: bahwa harapan selalu bisa tumbuh dari kepedulian, dan kemanusiaan tak pernah mengenal sekat. (Ardhy M Basir)
