Disangka Teroris di Haneda: Kenangan Membeku Andi Akbar Oddang di Negeri Sakura

Ramzy
Ramzy 351 Pembaca
4 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh: Ardhy M Basir

Bandara Haneda, Tokyo, yang kini dikenal modern dan ramah wisatawan, pernah menjadi latar pengalaman paling mencekam dalam hidup Andi Akbar Oddang. Sebuah kejadian yang bukan hanya mengguncang fisik, tetapi juga meninggalkan bekas emosional yang tak pernah benar-benar mencair, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.

Semua bermula dari sesuatu yang tampak sepele: penampilan.
Kacamata hitam. Jaket kulit. Rambut gondrong sebahu. Gaya yang bagi Andi Akbar saat itu hanyalah ekspresi anak muda era 1970-an—masa ketika gaya rebel dan sentuhan budaya pop Barat sedang digandrungi. Namun di mata petugas keamanan Jepang kala itu, penampilan tersebut memicu alarm besar.

Dunia sedang tegang. Nama Laila Khaled, pejuang Palestina yang mendunia karena aksi pembajakan pesawat, menjadi simbol ketakutan global terhadap terorisme. Ciri khasnya: kacamata gelap, rambut sebahu, jaket. Sosoknya menghantui aparat keamanan bandara di berbagai negara.
Dan hari itu, tanpa Andi Akbar sadari, bayangan Laila Khaled “menempel” pada dirinya.

Belum sempat menikmati udara Tokyo, ia langsung disergap petugas keamanan. Wajah-wajah tegang mengelilinginya. Tatapan curiga. Pertanyaan bertubi-tubi. Namanya pun dianggap mencurigakan.
“Akbar,” begitu ia memperkenalkan diri.
Nama itu justru memperparah keadaan. Di telinga petugas yang sedang siaga tinggi terhadap jaringan teror internasional, nama tersebut terdengar seperti potongan dari daftar buronan global.

Penjelasan bahwa ia warga Indonesia tak langsung dipercaya. Paspor yang ia tunjukkan dianggap palsu. Kata-katanya seperti memantul di dinding dingin ruang interogasi.
Yang terjadi setelah itu menjadi bagian paling kelam dalam ingatannya.
Ia diperiksa secara menyeluruh.

Semua barang dibongkar. Lalu ia diperintahkan menanggalkan pakaian. Bukan sekadar pemeriksaan biasa, melainkan penggeledahan tubuh total. Di ruang pemeriksaan yang dingin, pada musim salju, tubuhnya dibiarkan tanpa sehelai benang pun.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Baca juga :  Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un, Prof. Dr. H. Paturungi Parawansa Berpulang ke Rahmatullah
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!