Oleh: Ardhy M Basir
Bandara Haneda, Tokyo, yang kini dikenal modern dan ramah wisatawan, pernah menjadi latar pengalaman paling mencekam dalam hidup Andi Akbar Oddang. Sebuah kejadian yang bukan hanya mengguncang fisik, tetapi juga meninggalkan bekas emosional yang tak pernah benar-benar mencair, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.
Semua bermula dari sesuatu yang tampak sepele: penampilan.
Kacamata hitam. Jaket kulit. Rambut gondrong sebahu. Gaya yang bagi Andi Akbar saat itu hanyalah ekspresi anak muda era 1970-an—masa ketika gaya rebel dan sentuhan budaya pop Barat sedang digandrungi. Namun di mata petugas keamanan Jepang kala itu, penampilan tersebut memicu alarm besar.
Dunia sedang tegang. Nama Laila Khaled, pejuang Palestina yang mendunia karena aksi pembajakan pesawat, menjadi simbol ketakutan global terhadap terorisme. Ciri khasnya: kacamata gelap, rambut sebahu, jaket. Sosoknya menghantui aparat keamanan bandara di berbagai negara.
Dan hari itu, tanpa Andi Akbar sadari, bayangan Laila Khaled “menempel” pada dirinya.
Belum sempat menikmati udara Tokyo, ia langsung disergap petugas keamanan. Wajah-wajah tegang mengelilinginya. Tatapan curiga. Pertanyaan bertubi-tubi. Namanya pun dianggap mencurigakan.
“Akbar,” begitu ia memperkenalkan diri.
Nama itu justru memperparah keadaan. Di telinga petugas yang sedang siaga tinggi terhadap jaringan teror internasional, nama tersebut terdengar seperti potongan dari daftar buronan global.
Penjelasan bahwa ia warga Indonesia tak langsung dipercaya. Paspor yang ia tunjukkan dianggap palsu. Kata-katanya seperti memantul di dinding dingin ruang interogasi.
Yang terjadi setelah itu menjadi bagian paling kelam dalam ingatannya.
Ia diperiksa secara menyeluruh.
Semua barang dibongkar. Lalu ia diperintahkan menanggalkan pakaian. Bukan sekadar pemeriksaan biasa, melainkan penggeledahan tubuh total. Di ruang pemeriksaan yang dingin, pada musim salju, tubuhnya dibiarkan tanpa sehelai benang pun.
Waktu terasa berhenti.
Satu jam—yang baginya terasa seperti seharian—ia berdiri dalam kondisi telanjang, menggigil, sementara petugas memeriksa setiap bagian tubuhnya. Udara musim dingin Jepang menusuk tulang. Kulit seperti membeku.
Harga diri seperti runtuh perlahan.
Ia terus mengulang kalimat yang sama:
“Saya orang Indonesia… saya bukan siapa-siapa…”
Namun jawabannya selalu sama: paspor bisa dipalsukan.
Harapan baru muncul ketika pihak bandara akhirnya menghubungi Konsulat Republik Indonesia. Tapi menunggu bantuan diplomatik datang bukanlah proses cepat. Selama penantian itu, ia tetap berada dalam kondisi yang bagi siapa pun akan terasa sangat merendahkan.
Bagi Andi Akbar Oddang, itu bukan sekadar pengalaman perjalanan. Itu adalah pelajaran keras tentang bagaimana ketakutan global bisa menghapus kemanusiaan seseorang dalam hitungan menit. Ia menjadi korban dari wajah dunia yang sedang diliputi paranoia.
Kini, setiap melihat kacamata hitam model jadul, memorinya kembali ke ruang dingin di Haneda.
Bukan lagi soal gaya, bukan nostalgia yang manis, tetapi pengingat akan satu babak hidup yang tak pernah ia minta terjadi.
Namun dari pengalaman pahit itu, ada satu hal yang ia pegang: identitas dan kebenaran akhirnya tetap menang. Konsulat RI datang, menjelaskan, dan ia dibebaskan.
Luka batin mungkin tak sepenuhnya hilang, tetapi kisah itu kini menjadi cerita tentang bertahan—tentang seorang anak Indonesia yang pernah berdiri sendirian di negeri orang, di tengah dinginnya salju dan kecurigaan dunia.
Dan ia tidak pernah lupa.

