Menurut Mentan Amran, kondisi ini menunjukkan kerja kolaboratif pemerintah pusat, Bulog, pemerintah daerah, hingga petani berjalan efektif dalam menjaga produksi dan distribusi pangan nasional.
“Kapasitas gudang lebih dari 3 juta ton, sekarang 5,3 juta ton, sudah sewa 2 juta ton. Kalau ini data tidak benar, Kepala gudang itu dipenjara tuh, langsung masuk,” ujarnya.
Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik per 4 Mei 2026, luas panen padi di Jawa Timur pada Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 1.167.609 hektare dengan produksi gabah kering giling sebesar 6,62 juta ton. Dari jumlah tersebut, produksi beras diperkirakan mencapai 3,82 juta ton, meningkat dibanding periode yang sama tahun 2025 sebesar 3,63 juta ton.
Secara nasional, produksi beras Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 19,31 juta ton. Pemerintah menilai tren peningkatan produksi di berbagai sentra utama menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan pihaknya terus memperkuat kapasitas penyerapan dan penyimpanan guna memastikan hasil panen petani terserap optimal. Menurutnya, lonjakan stok beras menjadi indikasi meningkatnya produksi sekaligus tingginya kepercayaan petani terhadap penyerapan pemerintah.
“Produksi pertanian 2026 sangat melimpah dan sampai hari ini total stok Bulog secara nasional 5,3 juta ton. Dengan stok ini, Bulog harus menyewa gudang. Potensi gudang hampir 4 juta ton kami sudah sewa gudang untuk kapastias 2 juta ton. Bulog sudah persiapan bangun 100 gudang tambahan supaya tidak perlu sewa gudang ke depan,” ujar Ahmad Rizal. (*)

