PEDOMANRAKYAT, BUNGKU – Di tengah deru industrialisasi yang kian kencang menyapu pesisir Kabupaten Morowali, Wilayah Kerja (Wilker) PSDKP Morowali memikul mandat yang tak ringan. Berada di bawah payung Pangkalan PSDKP Bitung, mereka harus mengawal kedaulatan sumber daya laut di titik-titik krusial seperti TPI Matano. Di sana, napas ekonomi rakyat berdenyut tanpa henti, mempertemukan peluh nelayan, hiruk pikuk ABK, hingga mata rantai distribusi hasil laut yang berputar nyaris sepanjang waktu.
Muliadi, S.St.Pi, selaku Kepala Wilker PSDKP Morowali, mengungkapkan bahwa medan juang mereka di lapangan bukan sekadar mengejar pelanggar hukum. Baginya, ada kompleksitas sosial-ekonomi yang berkelindan di balik jaring nelayan.
“Memantau TPI Matano tidak bisa hanya mengandalkan kacamata hitam-putih regulasi. Kita sedang berhadapan dengan ruang hidup di mana masyarakat menggantungkan seluruh nasibnya pada setiap ekor ikan yang mendarat,” tuturnya menggambarkan dinamika lapangan.
Kendala pertama yang mencolok mata adalah keterbatasan infrastruktur fisik: muara dan kolam putar yang kian menyempit. Area sandar yang terbatas memaksa kapal-kapal nelayan terlibat “perebutan” ruang tambat yang semrawut, terutama saat fajar menyingsing ketika hasil tangkapan melimpah.
Ketidakteraturan ini menjadi barikade bagi petugas; melakukan identifikasi kapal dan verifikasi hasil tangkapan dalam kondisi berjubel tentu menguras energi lebih besar. Renovasi dermaga Matano pun kini bukan lagi sekadar wacana efisiensi dagang, melainkan kebutuhan mendesak demi tegaknya fungsi pengawasan negara.
Tantangan berikutnya merayap masuk ke ranah sensitif: kebutuhan dasar operasional nelayan. Muliadi menyoroti isu klasik yang terus menghantui, yakni ketersediaan es batu dan bahan bakar solar. Keduanya adalah nyawa bagi perikanan Matano. Tanpa es yang cukup, kualitas ikan merosot tajam, dan tanpa solar yang stabil, kemudi kapal urung berputar. Dalam himpitan ekonomi seperti ini, celah untuk melanggar aturan—baik dalam cara menangkap maupun pola distribusi—kerap menjadi jalan pintas yang menggoda bagi masyarakat pesisir.

