“Apa yang kita lakukan hari ini adalah ikhtiar. Percaya, setiap langkah yang dijalani dengan kesungguhan akan menemukan jalannya sendiri,” tuturnya, disambut antusias warga yang hadir.
Lebih dari sekadar sikap politik, IAS menegaskan bahwa dukungannya lahir dari kedekatan emosional dengan Tanah Luwu.
Ia menyampaikan bahwa dirinya bukan orang luar dalam perjuangan ini.
“Saya bagian dari keluarga besar Luwu Raya. Istri saya berasal dari Malangke. Maka apa yang saya sampaikan hari ini adalah panggilan hati,” ucapnya.
Menutup orasinya, IAS menyampaikan harapan agar suara dan semangat masyarakat Luwu Raya terus dijaga dengan cara yang damai, konsisten, dan bermartabat.
Ia meyakini, perjuangan yang dirawat dengan kesabaran dan kebersamaan akan sampai pada tujuan yang dicita-citakan bersama.
“Jangan pernah lelah berharap. Perjuangan ini adalah tentang masa depan generasi Luwu Raya,” pungkasnya. (*)
