Jejak di Bawakaraeng: Ketika Pendaki Membersihkan Dosa yang Tertinggal

Ramzy
Ramzy 436 Pembaca
3 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

PEDOMANRAKYAT, GOWA - Pagi di Gunung Bawakaraeng masih diselimuti kabut tipis ketika langkah-langkah itu mulai menyusuri jalur pendakian. Bukan sekadar perjalanan menaklukkan ketinggian, melainkan ikhtiar sunyi untuk memulihkan apa yang perlahan tercemar: alam yang selama ini mereka cintai.

Sabtu, 25 April, puluhan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) dari berbagai kampus di Sulawesi Selatan yang tergabung dalam Pusat Koordinasi Daerah (PKD) Sulsel berkumpul dengan satu tujuan—membersihkan jejak-jejak yang tak seharusnya tertinggal.

Aksi ini lahir dari kesepakatan dalam rapat koordinasi memperingati Hari Bumi beberapa hari sebelumnya. Pilihan mereka jatuh pada Bawakaraeng, gunung yang tak hanya megah, tetapi juga menyimpan ironi di setiap jalurnya.

Di beberapa titik pendakian, alam seperti “berbicara” lewat tumpukan sampah yang tercecer—plastik, bungkus makanan, hingga sisa-sisa kegiatan manusia yang lupa pulang. Gunung yang seharusnya menjadi ruang refleksi justru menjadi saksi abai.

Dari rombongan itu, lima anggota Mapala Universitas Muslim Indonesia (UMI) memilih berangkat lebih awal. Sehari sebelum aksi, mereka telah menapaki jalur untuk berkoordinasi dengan pengelola kawasan, memastikan langkah yang diambil bukan sekadar simbolik, tetapi benar-benar berdampak.

Keesokan harinya, kerja nyata dimulai. Tangan-tangan muda itu menyusuri jalur, memungut satu per satu sampah yang terselip di antara akar dan bebatuan. Kantong demi kantong terisi, hingga terkumpul 18 karung besar—angka yang tak hanya menunjukkan hasil kerja, tetapi juga besarnya persoalan.

Di tengah kegiatan itu, Reski Jaya, salah satu anggota Mapala UMI, menemukan sesuatu yang mengusik. Beberapa sampah yang dikumpulkan ternyata berasal dari kantong plastik sisa kegiatan penghijauan.

“Penghijauan itu memang baik, tapi sampahnya jangan ditinggalkan,” ujarnya, lirih namun tegas.

Baginya, mencintai alam tak cukup dengan menanam pohon atau mendaki puncak. Ada tanggung jawab sederhana yang sering diabaikan: membawa pulang kembali apa yang dibawa.

Baca juga :  2.000 Kader Dikerahkan Pelantikan DPD II Golkar Tana Toraja

Pesannya jelas, bahkan terdengar seperti peringatan bagi siapa saja yang ingin menapaki gunung: jika belum mampu bertanggung jawab atas sampah sendiri, mungkin perjalanan itu belum perlu dilakukan.

Aksi bersih ini bukan akhir. Ia hanyalah pengingat bahwa alam tak pernah meminta lebih—hanya ingin dijaga. Dan di Bawakaraeng, hari itu, sekelompok anak muda memilih untuk tidak sekadar menikmati, tetapi juga menebus. ( Ardhy M Basir )

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!