“Sebagai representasi KJNI Sulsel, saya mengetuk hati pemerintah untuk segera membenahi akses jalan di Kabupaten Sinjai menuju pusat-pusas kesehatan. Kita harus ingat, dalam situasi medis yang kritis, keterlambatan hitungan menit saja bisa berujung pada hilangnya nyawa seseorang,” imbuhnya dengan tegas.
Kisah memilukan yang menimpa Putri ini menjadi sebuah ironi yang sangat kontras di tengah megahnya klaim kemajuan pembangunan dan jargon peningkatan pelayanan publik. Di saat para pejabat sibuk memamerkan angka-angka pertumbuhan infrastruktur, di sudut lain masih ada anak bangsa yang nasibnya harus digantungkan pada otot-otot tetangga demi menjemput pertolongan medis.
Aksi gotong-royong warga memang menjadi bukti sahih betapa indahnya solidaritas sosial di tingkat akar rumput. Namun di balik kehangatan itu, tersimpan sebuah fakta pahit: masyarakat terpaksa menambal kelalaian pelayanan publik yang absen dengan peluh dan pengorbanan mereka sendiri.
Pertanyaan mendasar yang kini menggantung di udara adalah: untuk siapa sebenarnya pembangunan itu dirancang jika untuk berobat saja rakyat masih harus memikul beban fisik yang begitu berat?
Rentetan peristiwa yang dialami Putri menjadi alarm pengingat yang sangat bising bahwa ketimpangan pembangunan bukanlah mitos, melainkan realitas pahit yang nyata di wilayah pedalaman.
Selama sirine ambulans belum bisa meraung di depan pintu rumah warga yang sedang sekarat, maka narasi tentang pemerataan pelayanan kesehatan hanyalah sebuah angan-angan dan rapor merah yang belum terselesaikan.
Jika di era modern tahun 2026 ini masih ada seorang anak yang harus ditandu sejauh dua kilometer demi seonggok layanan ambulans, maka yang perlu dirombak total bukan sekadar aspal jalanan, melainkan komitmen dan nurani pemerintah dalam menjamin hak sehat rakyatnya hingga ke garis perbatasan terdalam. (*)
