Keberhasilan PSM tampil sebagai Juara Sepak Bola Perserikatan PSSI tahun 1992 -- setelah menunggu 26 tahun -- memberi hikmah tersendiri bagi beberapa orang, termasuk saya dan istri. Bapak Ande Abdul Latief (alm.) dengan bendera Biro Perjalanan Haji dan Umrah PT Tiga Utama yang sedang naik daun saat itu, memberangkatkan sejumlah pendukung PSM berhaji bareng.
Pemain PSM yang ikut adalah Alimuddin Usman dan Mustari Ato. Namun Mustari Ato mengalihkan jatahnya ke ibunda tercinta. Ada juga Anrar Ramang dan beberapa suporter PSM lainnya. Istri saya mengetahui dapat jatah menunaikan ibadah haji, saban malam menunaikan salat tahajud saban malam.
Suatu malam dia ikut salat isya di kediaman Pak Ande di Jl. Mappanyukki. Rupanya pada malam itu, ada pengundian untuk mencari seorang jemaah yang ikut menunaikan ibadah haji pada tahun 1992 itu. Istri saya ikut menulis nama lengkap dengan alamatnya pada sepotong kertas yang sengaja dipersiapkan. Pak Ande sendiri yang mengambil gulungan kertas.
Beliau membaca sepotong-sepotong data yang memperoleh rezeki menunaikan ibadah haji itu. Yang dibaca lebih awal, alamatnya Kompleks Perumahan Unhas. Istri saya setelah diumumkan, merasa bahwa dirinyalah yang mendapat jatah itu ketika disebut kompleks perumahan. Akhirnya, Pak Ande pun menyebut namanya. Betul istri saya yang memperoleh hadiah.
Berbagai pertemuan tim pembimbing haji dilaksanakan di Makassar. Setiba di Jakarta pun masih dilaksanakan kegiatan serupa, bergabung dengan tim Jakarta. Pada tahun itu, PT Tiga Utama memberangkatkan jemaah lebih dari 3000 orang. Saya saja memperoleh dan memimpin jemaah pada bus nomor 82 kapasitas 40 orang.
Saat ke Tanah Suci, kami diterbangkan bersamaan. Saya masih bisa bersama istri satu pesawat. Waktu itu kami langsung ke Mekkah, ketika kompleks di sekitar Masjidil Haram boleh dikatakan dipenuhi oleh bangunan kumuh. Pasar Seng, tempat jemaah haji Indonesia biasa berbelanja, masih ada. Rombongan kami yang pria saja ditampung pada sebuah bangunan berlantai tiga, lengkap dengan AC. Apalagi saat itu, Juni 1992. Suhu sedang gila-gilanya di Arab Saudi.
Berkaitan dengan panasnya temperatur di Arab Saudi saat itu, istri saya biasa membasahi tubuh dan mukenanya dengan air zamzam dari Masjidil Haram menjelang kembali ke hotel. Sebelum tiba di hotel, pakaiannya sudah kering.
Waktu itu, kita masih bisa melihat sumur air zamzam. Saya sempat menengok ke bawah. Tampak seperti gulungan air dengan gelembung raksasa keluar dari bawah. Maha Besar Allah swt, di tengah kota yang terdiri atas bebatuan mengalir air yang tidak pernah kering dari waktu ke waktu.
Pada saat umrah pertama tiba inilah, satu-satunya kesempatan mencium hajarul aswad saya peroleh. Peluang mencium batu hitam itu sangat misterius. Bayangkan saja, tubuh saya yang mungil bin kecil bisa tiba-tiba seperti terpelanting langsung ke depan lubang batu hitam itu. Saya tidak pernah tahu, bagaimana tubuh saya tiba-tiba saja ada di depan batu hutam itu. Mungkin saja saya melesat di kolong ketiak para jemaah dengan tubuh raksasa. Wallahuallam.
Anehnya, kepala saya langsung nongol di dalam lubang tersebut lengkap dengan kacamata. Sejenak saya mencium aroma wangi yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Masya Allah. Setelah itu, saya tidak pernah berusaha dan mendapat kesempatan lagi mencium batu hitam itu.
Suami istri dipisahkan
Setelah seminggu di Mekkah, para jemaah PT Tiga Utama mulai berdatangan dari Tanah Air. Petugas yang berangkat dengan istri harus dipisahkan. Istri saya tetap tinggal di Mekkah dan saya harus ke Madinah melalui Jeddah. Menyambut kedatangan jemaah haji, saya bersama beberapa orang petugas pria kembali ke Jeddah. Dari Jeddah para jemaah langsung diangkut dengan bus Saudi Public Transport Company (SAPTCO) kapasitas 42 orang ke Madinah. Perusahaan yang menyediakan layanan bus antarkota dan tranportasi haji dan umrah ini berpusat di Riyadh. Sekarang sudah tersedia layanan tambahan sesuai perkembangan teknologi terkini -- WiFi grartis.
Waktu itu, saya kebetulan mendampingi jemaah haji asal Solo. Selama melaksanakan ibadah ‘arbain’ (salat 40 waktu tanpa putus) di Masjid Nabawi, kami para petugas bisa sedikit santai sambil ikut melaksanakan ‘arbain’. Pada saat melaksanakan wisata kota di Madinah, antara lain mengunjung Bukit Uhud, Masjid Quba, Pasar Kurma, dan lain-lain, kami petugas harus bekerja memobilisasi para jemaah. Setiap petugas harus memastikan, semua jemaahnya sudah naik di bus sebelum berangkat. Begitu pun saat sekembali ke hotel menjelang tiba waktu salat fardu. Semua harus lengkap.
Pada waktu di Madinah, seorang jemaah haji perempuan daro PT Tiga Utama berpulang. Saya sempat mendampingi jemaah itu ke Kompleks Pemakaman Baqi saat akan dimandikan dan dikafankan. Setelah itu, dibawa ke Masjid Nabawi untuk disalatkan seusai salat fardu zuhur. Usai disalatkan, jemaah haji berebutan hendak mengusung keranda janazah.
Berpisah selama seminggu dengan istri ternyata merupakan ujian tersendiri. Ujian rindu. Sekali waktu, masuk telepon dari Aidir Amin Daud dari Mekkah melalui telepon hotel. Kesempatan ini saya gunakan untuk berbicara sejenak menanyakan keadaan istri saya di Kota Haram tersebut.
“Baik-baik ji. Nanti ketemu ji di wukuf,” kata Aidir menjawab kerinduan saya terhadap istri.
Sekali waktu dalam perjalanan pulang dari Masjid Nabawi ke hotel saya bersama dengan seorang pembimbing agama PT.Tiga Utama. Lantaran suhu sangat panas, pembimbing yang berjalan di depan saya itu, sering menyemprotkan air ke kepalanya untuk membuat adem wajahnya. Sialnya, semprotan air itu malah menghantam muka saya yang ada di belakangnya. Dampaknya, saat tiba di hotel saya terkena flu berat.
Hampir tabrak istri
Waktu seminggu untuk menunggu hari wukuf serasa satu tahun. Begitu lama rasanya. Soalnya, pada hari wukuf itulah saya akan bertemu istri. Melampiskan rasa rindu setelah berhari-hari terpisah di Tanah Suci.
Setelah mengambil mikat dan menunaikan salat sunat 2 rakaat dalam pakaian ihram di Masjid Bir Ali, mobil SAPTCO meluncur kencang menuju Mina melintasi jalan bebas hambatan dengan lebar beberapa jalur. Tujuan kami hari itu adalah Mina sebagai persiapan menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf.
Kami menginap dua malam di Mina sembari menunggu hari wukuf yang merupakan rukun utama ibadah haji. Bus SATPCO kami masih gunakan menuju Arafah. Dengan catatan, setelah menurunkan jemaah, bus keluar dari Arafah.
Saat kami tiba, jalan di Arafah sudah sangat sesak. Sampai-sampai bus kami nyaris menyeruduk salah seorang jemaah Arab di depan kendaraan yang ditumpangi. Sempat juga muka si Arab itu memperlihatkan gestur tidak nyaman. Namun, pengemudi bus yang saya pimpin segera membelai-belai janggutnya. Si Arab yang sudah bermuka murka itu akhirnya tersenyum.
“Allah..Allah,” pekik si sopir bus kami.
Saya pun turun dari mobil untuk mencari tenda Tiga Utama. Saya berjalan cepat menguak lautan manusia sembari mata melotot setiap ada papan nama di gerbang tenda. Pas ada tanda PT Tiga Utama saya hendak melangkah masuk. Astaga, hampir saja saya menabrak istri tercinta di pintu masuk tenda.
“Mau ke mana ki?,” tanya istri yang belum hilang kaget dan herannya bisa berjumpa denhgan suaminya di pintu masuk kompleks tenda Tiga Utama.
“Ya, mencari tenda kita,” jawab saya kemudian menitip kantong kecil yang saya bawa.
Saya kemudian berlari menuju bus yang ditinggalkan. Mudah dikenali karena ada nomor 82 di depan kacanya. Saya memberi kode kepada para penumpang agar segera turun dan menuju ke tenda PT Tiga Utama mengikuti jejak pemandu.
Sepanjang hari saya dan istri berdoa di sisi lain tenda yang diisi oleh puluhan jemaah. Tibalah waktu magrib, saya harus berpisah dengan istri. Begitu berat berpisah dengan istri. Dia harus mengikuti rombongan jemaah haji yang dipandunya. Saya pun harus menghadapi dua kelompok jemaah dari bus yang jumlahnya 40-an orang itu yang sudah dibagi menjadi dua bus “coaster”, kapasitas 20-an orang.
Dari Arafah sekitar lepas magrib itu, kami mabit (memungut kerikil) di Musdalifah. Kendaraan kecil itu pun bergerak menuju Mina dalam iringan kendaraan yang sangat panjang.
Pergerakan bus “coaster” itu mungkin lebih cepat semut merayap. Bayangkan, malam hari kami memungut kerikil, hari sudah sekitar pukul 11.00 belum sampai di Mina.
Sialnya, selama dalam perjalanan, saya direpoti oleh seorang jemaah pria lansia. Dia ditemani oleh istrinya yang juga lansia. Si suaminya ini sepanjang perjalanan suka usil. Selalu mengusik jemaah perempuan di dekatnya. Tangannya liar. Istrinya, kerap memukul tangannya agar berhenti “liar” memegang sembarang orang. Namun saat sedang tenang, penyakitnya kambuh.
Sampai di tenda tim Haji Indonesia di sebelah Terowongan Mina, jemaah lansia yang ‘nakal’ itu jatuh sakit. Saya menitipnya di Tim Kesehatan Haji Indonesia setelah memberi informasi agar bisa diantar ke Mina setelah dia baikan. Saya tidak tahu bagaimana kabar jemaah tersebut. Tentu Tim Kesehatan Haji Indonesia sudah mengurusnya.
Saya pun berjalan kaki dari tenda Tim Kesehatan Haji Indonesia ke Mina melalui Terowongan Mina yang menelan banyak korban jiwa setahun sebelumnya. Pada saat saya melintas tahun 1992, Terowongan Mina sudah dibuat dua jalur. Jalur yang ke dan dari Mina berbeda. Namun saya melihat, ada juga satu dua jemaah yang nakal. Mereka melawan arus dengan berjalan di pinggir-pinggir terowongan.
Situasi yang paling berat adalah ketika harus keluar dari Mina setelah melontar jamarat Aqabah untuk segera melaksanakan tawaf ifadah. Biasa juga disebut tawaf ziarah. Tawaf ini wajib dilaksanakan jemaah agar ibadah hajinya sah.
Gerakan meninggalkan Mina itu harus dilakukan sebelum magrib. Saya harus memikul tas pakaian yang begitu berat dengan berjalan kaki menuju Mekkah dan memandu jemaah asal Solo yang didampingi. Kami berjalan saja mengikuti jemaah yang di depan, sebab pasti mereka juga bertujuan sama, melaksanakan tawaf ifadah.
Setelah melengkapi seluruh rukun haji, saya pun mengantar jemaah haji yang didampingi menggunakan bus ke Jeddah. Bertepatan pula menjelang jemaah kambali ke Tanah Air, kami harus memberikan suara pada acara pemilihan umum tahun 1992, tepat pada tanggal 9 Juni. Kami hanya mencoblos kartu suara kemudian memasukkkan ke kotak yang tersedia tanpa menggunakan bilik suara, tetapi mencoblos di lobi hotel.
Pemilu saat itu pemilu diikuti Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya, dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Golkar kemudian memenangkan 73,11% suara (282 kursi), PPP 15,96% (62 kursi) dan PDI 10,93% (56 kursi).
Menjelang keberangkatan jemaah asal Solo kembali ke Tanah Air, saya tidak sempat menyapa mereka. Nanti melalui telepon, salah satu keluarga yang ditemani anak gadisnya menyampaikan perasaan sangat menyayangkan tidak sempat bertemu dengan saya sebelum meninggalkan Jeddah.
Ya, sekadar menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas jasa saya sudah menampingi selama sebulan di Tanah Suci.
Hingga kini, komunikasi dengan keluarga ini putus sama sekali. Mudah-mudahan mereka sehat walafiat dan selalu mengenang saat menunaikan ibadah haji tahun 1992, saat saya menemani mereka sejak tiba dan meninggalkan Jeddah.
Setelah jemaah kembali ke Indonesia, saya bergabung kembali dengan istri di salah satu hotel di Jeddah. Istri juga mendampingi dua anak panti asuhan dari Bulukumba yang dihajikan oleh Pak Ande. Ada juga Ibunda dari Mustari Ato yang selalu bersama istri.
Selama beberapa hari di Jeddah saya bisa melepaskan rindu sepuas hati dengan istri. Kecuali satu, sebab ‘hajjah’ baru ini, sedang itu…Ha..ha..
Selamat hari Raya Idul Adha. Maaf lahir dan batin. (M.Dahlan Abubakar)
