Kenangan Wukuf di Arafah 34 Tahun Silam

Ramzy 196 Pembaca
13 Menit baca

Keberhasilan PSM tampil sebagai Juara Sepak Bola Perserikatan PSSI tahun 1992 — setelah menunggu 26 tahun — memberi hikmah tersendiri bagi beberapa orang, termasuk saya dan istri. Bapak Ande Abdul Latief (alm.) dengan bendera Biro Perjalanan Haji dan Umrah PT Tiga Utama yang sedang naik daun saat itu, memberangkatkan sejumlah pendukung PSM berhaji bareng.
Pemain PSM yang ikut adalah Alimuddin Usman dan Mustari Ato. Namun Mustari Ato mengalihkan jatahnya ke ibunda tercinta. Ada juga Anrar Ramang dan beberapa suporter PSM lainnya. Istri saya mengetahui dapat jatah menunaikan ibadah haji, saban malam menunaikan salat tahajud saban malam.
Suatu malam dia ikut salat isya di kediaman Pak Ande di Jl. Mappanyukki. Rupanya pada malam itu, ada pengundian untuk mencari seorang jemaah yang ikut menunaikan ibadah haji pada tahun 1992 itu. Istri saya ikut menulis nama lengkap dengan alamatnya pada sepotong kertas yang sengaja dipersiapkan. Pak Ande sendiri yang mengambil gulungan kertas.

Beliau membaca sepotong-sepotong data yang memperoleh rezeki menunaikan ibadah haji itu. Yang dibaca lebih awal, alamatnya Kompleks Perumahan Unhas. Istri saya setelah diumumkan, merasa bahwa dirinyalah yang mendapat jatah itu ketika disebut kompleks perumahan. Akhirnya, Pak Ande pun menyebut namanya. Betul istri saya yang memperoleh hadiah.

Berbagai pertemuan tim pembimbing haji dilaksanakan di Makassar. Setiba di Jakarta pun masih dilaksanakan kegiatan serupa, bergabung dengan tim Jakarta. Pada tahun itu, PT Tiga Utama memberangkatkan jemaah lebih dari 3000 orang. Saya saja memperoleh dan memimpin jemaah pada bus nomor 82 kapasitas 40 orang.

Saat ke Tanah Suci, kami diterbangkan bersamaan. Saya masih bisa bersama istri satu pesawat. Waktu itu kami langsung ke Mekkah, ketika kompleks di sekitar Masjidil Haram boleh dikatakan dipenuhi oleh bangunan kumuh. Pasar Seng, tempat jemaah haji Indonesia biasa berbelanja, masih ada. Rombongan kami yang pria saja ditampung pada sebuah bangunan berlantai tiga, lengkap dengan AC. Apalagi saat itu, Juni 1992. Suhu sedang gila-gilanya di Arab Saudi.
Berkaitan dengan panasnya temperatur di Arab Saudi saat itu, istri saya biasa membasahi tubuh dan mukenanya dengan air zamzam dari Masjidil Haram menjelang kembali ke hotel. Sebelum tiba di hotel, pakaiannya sudah kering.

Waktu itu, kita masih bisa melihat sumur air zamzam. Saya sempat menengok ke bawah. Tampak seperti gulungan air dengan gelembung raksasa keluar dari bawah. Maha Besar Allah swt, di tengah kota yang terdiri atas bebatuan mengalir air yang tidak pernah kering dari waktu ke waktu.

Pada saat umrah pertama tiba inilah, satu-satunya kesempatan mencium hajarul aswad saya peroleh. Peluang mencium batu hitam itu sangat misterius. Bayangkan saja, tubuh saya yang mungil bin kecil bisa tiba-tiba seperti terpelanting langsung ke depan lubang batu hitam itu. Saya tidak pernah tahu, bagaimana tubuh saya tiba-tiba saja ada di depan batu hutam itu. Mungkin saja saya melesat di kolong ketiak para jemaah dengan tubuh raksasa. Wallahuallam.

Anehnya, kepala saya langsung nongol di dalam lubang tersebut lengkap dengan kacamata. Sejenak saya mencium aroma wangi yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Masya Allah. Setelah itu, saya tidak pernah berusaha dan mendapat kesempatan lagi mencium batu hitam itu.

Suami istri dipisahkan

Setelah seminggu di Mekkah, para jemaah PT Tiga Utama mulai berdatangan dari Tanah Air. Petugas yang berangkat dengan istri harus dipisahkan. Istri saya tetap tinggal di Mekkah dan saya harus ke Madinah melalui Jeddah. Menyambut kedatangan jemaah haji, saya bersama beberapa orang petugas pria kembali ke Jeddah. Dari Jeddah para jemaah langsung diangkut dengan bus Saudi Public Transport Company (SAPTCO) kapasitas 42 orang ke Madinah. Perusahaan yang menyediakan layanan bus antarkota dan tranportasi haji dan umrah ini berpusat di Riyadh. Sekarang sudah tersedia layanan tambahan sesuai perkembangan teknologi terkini — WiFi grartis.

Waktu itu, saya kebetulan mendampingi jemaah haji asal Solo. Selama melaksanakan ibadah ‘arbain’ (salat 40 waktu tanpa putus) di Masjid Nabawi, kami para petugas bisa sedikit santai sambil ikut melaksanakan ‘arbain’. Pada saat melaksanakan wisata kota di Madinah, antara lain mengunjung Bukit Uhud, Masjid Quba, Pasar Kurma, dan lain-lain, kami petugas harus bekerja memobilisasi para jemaah. Setiap petugas harus memastikan, semua jemaahnya sudah naik di bus sebelum berangkat. Begitu pun saat sekembali ke hotel menjelang tiba waktu salat fardu. Semua harus lengkap.
Pada waktu di Madinah, seorang jemaah haji perempuan daro PT Tiga Utama berpulang. Saya sempat mendampingi jemaah itu ke Kompleks Pemakaman Baqi saat akan dimandikan dan dikafankan. Setelah itu, dibawa ke Masjid Nabawi untuk disalatkan seusai salat fardu zuhur. Usai disalatkan, jemaah haji berebutan hendak mengusung keranda janazah.

Berpisah selama seminggu dengan istri ternyata merupakan ujian tersendiri. Ujian rindu. Sekali waktu, masuk telepon dari Aidir Amin Daud dari Mekkah melalui telepon hotel. Kesempatan ini saya gunakan untuk berbicara sejenak menanyakan keadaan istri saya di Kota Haram tersebut.

“Baik-baik ji. Nanti ketemu ji di wukuf,” kata Aidir menjawab kerinduan saya terhadap istri.
Sekali waktu dalam perjalanan pulang dari Masjid Nabawi ke hotel saya bersama dengan seorang pembimbing agama PT.Tiga Utama. Lantaran suhu sangat panas, pembimbing yang berjalan di depan saya itu, sering menyemprotkan air ke kepalanya untuk membuat adem wajahnya. Sialnya, semprotan air itu malah menghantam muka saya yang ada di belakangnya. Dampaknya, saat tiba di hotel saya terkena flu berat.

Hampir tabrak istri

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version