PEDOMANRAKYAT, MAKASSAR – Suasana Minggu siang itu terasa berbeda di Gobar Kuliner Gontang, Makassar. Bukan sekadar ajang temu kangen, melainkan perjumpaan yang sarat makna. Anak-anak SMP Suryo Sumarno Asrama Armed angkatan 1979–1980 kembali dipertautkan oleh niat yang sama: merawat silaturahim dan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Minggu (25/1/2026).
Wajah-wajah yang dulu akrab di lorong asrama dan ruang kelas kini tampak lebih matang, sebagian telah dihiasi rambut memutih. Namun saat tawa dan sapa mengalir, jarak puluhan tahun seolah luruh. Kebersamaan itu kembali menemukan ruhnya—ukhuwah yang dibangun sejak masa remaja.
Nama SMP Suryo Sumarno mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Sekolah ini berada di bawah naungan SMP III dan pada masanya menjadi ruang pembinaan karakter, disiplin, serta kebersamaan bagi para siswa yang tinggal di Asrama Armed. Dari tempat sederhana itulah, ikatan persaudaraan mereka tumbuh dan bertahan hingga hari ini.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Eba. Sejak awal, ia menggagas pertemuan ini bukan hanya sebagai nostalgia, tetapi juga sebagai ruang refleksi spiritual menjelang Ramadhan.
“Ramadhan itu bukan sekadar datang setiap tahun, tapi perlu disambut dengan hati yang bersih. Lewat silaturahim ini, kami ingin saling memaafkan, saling menguatkan, dan menata niat agar Ramadhan nanti lebih bermakna,” ujar Eba.
Di antara para alumni yang hadir, Walasari yang juga alumni SMP Suryo Sumarno—tampak menikmati setiap momen kebersamaan. Baginya, pertemuan ini bukan sekadar reuni, melainkan perjalanan batin menengok kembali masa-masa awal pembentukan diri.

