Khutbah yang Hilang di Tengah Karebosi

Ramzy
Ramzy 1.5k Pembaca
6 Menit baca

Follow Pedomanrakyat.co.id untuk mendapatkan informasi terkini.

Klik WhatsApp Channel  |  Google News

Oleh : Ardhy M Basir

Pagi itu, Sabtu 21 Maret 2026, langit di atas Lapangan Karebosi menggantung kelabu. Awan tebal seperti menahan matahari untuk sekadar mengintip. Ribuan jamaah yang sejak subuh memadati jantung Kota Makassar itu tetap khusyuk menunaikan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah.

Takbir telah usai. Salam telah ditunaikan. Namun tak satu pun buru-buru beranjak.

Mendung menahan langkah.

Jamaah bertahan di tempat shafnya, sebagian menengadah, sebagian lagi menatap kosong ke depan. Mereka menunggu khutbah selesai—sebuah kesadaran yang perlahan langka: bahwa khutbah adalah bagian dari kesempurnaan ibadah Idul Fitri.

Namun justru di situlah ironi itu terasa.

Suara khutbah… menghilang.

Bukan benar-benar hilang, tapi lenyap dalam jarak. Di bagian luar lapangan, suara khatib hanya terdengar sayup-sayup, seperti gema yang tersesat di antara gedung-gedung kota.

Kalimat-kalimat yang seharusnya meneduhkan, justru terputus-putus.
Pesan yang seharusnya merangkul, tak sampai ke telinga.

Dan di titik itu, Karebosi seperti kehilangan rohnya.

Dua atau tiga dekade silam, suasana Idul Fitri di Karebosi punya denyut yang berbeda. Di setiap sudut, bahkan hingga ke perempatan jalan—Jalan G. Bulusaraung, Ahmad Yani, Jenderal Sudirman, hingga G. Bawakaraeng—suara dari Radio Republik Indonesia (RRI) mengalir lantang melalui pengeras suara.

Bahkan, di tengah lautan manusia, suara itu bukan sekadar khutbah.
Ia menjadi penghubung.

“Ditemukan seorang anak…,” begitu suara khas itu kerap terdengar. Pengumuman anak hilang menjadi bagian dari ingatan kolektif warga Makassar. Di tengah keramaian, ada kepedulian yang disiarkan.
Ada kota yang terasa hadir untuk warganya.

Hari ini, suara itu tak lagi ada.

Tak ada lagi RRI. Tak ada lagi pengumuman. Tak ada lagi denyut kebersamaan yang mengalir dari pengeras suara kota.

Baca juga :  16 Tim Angkatan Alumni SMANSA Ikuti Liga Domino Seri II, Ketua SMDC : Ini Menunjukkan Eksistensi Kita yang Tak Hentinya Bersilaturahmi

Yang tersisa hanya keramaian—tanpa koneksi.

Ironisnya, semua ini terjadi di tengah kemajuan teknologi yang seharusnya membuat segalanya lebih mudah.

Dulu, ratusan meter kabel audio dibentangkan dari tengah lapangan ke segala penjuru. Teknologi sederhana, tapi hasilnya luar biasa: suara khutbah terdengar jelas hingga ke pinggir.

Hari ini? Teknologi jauh lebih canggih—wireless system, speaker line array, distribusi audio digital—semua tersedia.

Tapi hasilnya justru mundur.

Suara hanya milik mereka yang berada di tengah. Sementara yang di luar, harus bersabar dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Mereka bertahan bukan karena mendengar, tapi karena tahu—khutbah adalah bagian dari ibadah.
Dan itu seharusnya tidak terjadi.

Lapangan yang Tak Lagi Sama

Lapangan Karebosi memang tetap menjadi primadona. Namun wajahnya hari ini tak lagi sama seperti dulu.

Revitalisasi Karebosi di masa kepemimpinan Ilham Arif Sirajuddin memang mempercantik wajah kota. Dengan dalih penataan kawasan, pengelolaan lapangan bahkan sempat diserahkan kepada pihak swasta—pengusaha lokal Hasan Basri.

Secara visual, perubahan itu berhasil. Karebosi menjadi lebih rapi, lebih modern, dan lebih “kota”.

Namun di balik itu, ada konsekuensi yang hingga hari ini belum pernah benar-benar diselesaikan: distribusi jamaah yang tak lagi ideal.

Dengan luas sekitar 11 hingga 12 hektar (±112.900 meter persegi), Karebosi sejatinya mampu menampung lebih banyak aktivitas. Namun realitas di lapangan menunjukkan hal berbeda.

Hanya sebagian area yang benar-benar digunakan untuk kegiatan besar seperti shalat Idul Fitri.

Selebihnya—menjadi panggung upacara kota, ruang terbuka, dan sarana jogging.

1
2TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar
error: Content is protected !!