Di Balik Perbedaan, Ada Ruang Kedewasaan
Namun, di balik semua itu, ada hal yang lebih sunyi—dan sering terlupakan.
Lebaran bukan hanya soal tanggal.
Ia adalah rasa.
Rasa lega setelah menahan diri.
Rasa rindu yang akhirnya bertemu.
Rasa maaf yang diucapkan, meski kadang masih terbata.
Di kampung-kampung, orang tetap saling berkunjung, meski berbeda hari.
Di kota-kota, pesan “mohon maaf lahir batin” tetap dikirim, tanpa bertanya dulu: kamu lebaran hari apa?
Karena pada akhirnya, takbir yang dikumandangkan—baik hari ini ( Jumat ) atau esok ( Sabtu ) —tetap menuju langit yang sama.
Perbedaan satu hari tak pernah benar-benar mampu memisahkan makna.
Lebaran yang Seharusnya: Menyatukan, Bukan Membelah
Mungkin, yang perlu kita jaga bukan keseragaman, tapi kebersamaan.
Bahwa keyakinan boleh berbeda,
cara boleh tak sama,
tapi hati tetap bisa saling menerima.
Di negeri yang terbiasa hidup dalam perbedaan, Lebaran justru menemukan maknanya yang paling dalam: bukan pada kesamaan waktu, tapi pada kesediaan untuk tetap bersama.
Sebab Lebaran sejatinya bukan tentang siapa yang lebih dulu,
melainkan siapa yang mampu kembali—
ke hati yang bersih,
dan kepada sesama dengan penuh kasih. ( Ardhy M Basir )

