PEDOMANRAKYAT, JAKARTA - Malam itu, langit Indonesia kembali dibaca.
Bukan sekadar dilihat, tapi ditafsirkan—dengan angka, dengan teleskop, dan dengan keyakinan.
Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI akhirnya menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Keputusan itu dibacakan Menteri Agama, Prof KH Nasaruddin Umar, setelah sidang isbat yang digelar di Auditorium HM Rasjidi, Jakarta.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, prosesnya berjalan berlapis.
Dimulai dari seminar posisi hilal yang terbuka untuk publik, berlanjut ke sidang tertutup selepas Maghrib, hingga akhirnya satu kalimat yang ditunggu jutaan orang diumumkan ke ruang-ruang keluarga di seluruh Indonesia: Lebaran telah ditetapkan.
Di ratusan titik dari Aceh hingga Papua, mata memandang langit yang sama.
Sebagian melihat hilal, sebagian tidak.
Sebagian percaya pada penglihatan, sebagian lagi pada perhitungan.
Dan dari situlah, perbedaan kembali lahir.
Lebaran yang Berbeda: Cerita yang Tak Pernah Benar-Benar Usai
Di sebuah rumah sederhana, seorang ibu sudah menyiapkan ketupat sejak malam. Ia mengikuti keputusan pemerintah.
Di rumah lain, tak jauh dari sana, gema takbir sudah berkumandang lebih dulu. Mereka telah lebih dulu berlebaran.
Bukan karena ingin berbeda, tapi karena cara memahami langit memang tak selalu sama.
Muhammadiyah, misalnya, menetapkan 1 Syawal jatuh sehari lebih awal, Jumat, 20 Maret 2026.
Metode hisab yang mereka gunakan memberi kepastian sejak jauh hari—tanpa menunggu apakah hilal tampak atau tidak.
Sementara pemerintah memilih jalan tengah: menggabungkan hisab dan rukyatul hilal, antara hitungan dan pengamatan.
Di sinilah Indonesia berdiri—di antara dua cara membaca tanda-tanda waktu.
Perbedaan ini bukan hal baru. Ia datang hampir setiap tahun, seperti tamu lama yang sudah dikenal wajahnya. Kadang diperdebatkan, kadang diterima, tapi selalu kembali.
Di Balik Perbedaan, Ada Ruang Kedewasaan
Namun, di balik semua itu, ada hal yang lebih sunyi—dan sering terlupakan.
Lebaran bukan hanya soal tanggal.
Ia adalah rasa.
Rasa lega setelah menahan diri.
Rasa rindu yang akhirnya bertemu.
Rasa maaf yang diucapkan, meski kadang masih terbata.
Di kampung-kampung, orang tetap saling berkunjung, meski berbeda hari.
Di kota-kota, pesan “mohon maaf lahir batin” tetap dikirim, tanpa bertanya dulu: kamu lebaran hari apa?
Karena pada akhirnya, takbir yang dikumandangkan—baik hari ini ( Jumat ) atau esok ( Sabtu ) —tetap menuju langit yang sama.
Perbedaan satu hari tak pernah benar-benar mampu memisahkan makna.
Lebaran yang Seharusnya: Menyatukan, Bukan Membelah
Mungkin, yang perlu kita jaga bukan keseragaman, tapi kebersamaan.
Bahwa keyakinan boleh berbeda,
cara boleh tak sama,
tapi hati tetap bisa saling menerima.
Di negeri yang terbiasa hidup dalam perbedaan, Lebaran justru menemukan maknanya yang paling dalam: bukan pada kesamaan waktu, tapi pada kesediaan untuk tetap bersama.
Sebab Lebaran sejatinya bukan tentang siapa yang lebih dulu,
melainkan siapa yang mampu kembali—
ke hati yang bersih,
dan kepada sesama dengan penuh kasih. ( Ardhy M Basir )

