Makassar, Kota yang Sibuk Mengusir Pedagang

Ramzy 983 Pembaca
4 Menit baca

Banyak dari mereka adalah orang yang tidak memiliki akses ke modal besar. Tidak punya kemampuan menyewa ruko atau membuka restoran. Trotoar dan pinggir jalan menjadi satu-satunya tempat yang mungkin untuk bertahan hidup.

Di sisi lain, pedagang kaki lima justru memainkan peran penting dalam ekonomi kota.

Mereka menyediakan makanan murah bagi pekerja, mahasiswa, sopir, dan buruh. Mereka menciptakan lapangan kerja kecil yang mungkin tidak terlihat dalam statistik ekonomi formal.

Dengan kata lain, mereka adalah urat nadi ekonomi informal kota.
Namun dalam praktiknya, kebijakan pemerintah kota sering terlihat lebih cepat menertibkan daripada merancang solusi.

Kota yang Rapi, Tapi Siapa yang Bertahan?

Ambisi menjadikan Makassar sebagai kota modern memang patut diapresiasi.

Trotoar diperlebar. Taman kota dibangun. Kawasan wisata diperindah. Semua itu penting bagi wajah kota.

Tetapi modernitas kota tidak hanya diukur dari rapinya trotoar.

Modernitas kota juga diukur dari cara kota memperlakukan rakyat kecilnya.

Jika setiap penataan kota selalu berakhir dengan pengusiran pedagang kecil, maka yang terjadi bukan penataan—melainkan pemindahan masalah.

Pedagang yang diusir hari ini akan muncul lagi di tempat lain besok.
Bukan karena mereka keras kepala.
Melainkan karena mereka harus makan.

Belajar Mengelola, Bukan Sekadar Mengusir

Kota-kota maju tidak selalu menghapus pedagang kaki lima.
Mereka mengelolanya.

Ada zona khusus kuliner malam.
Ada fasilitas listrik resmi.
Ada standar kebersihan dan keamanan makanan.
Ada pengawasan pemerintah.
Pedagang diatur, bukan diusir.

Jika Makassar ingin benar-benar menjadi kota besar, mungkin sudah waktunya pemerintah kota mengubah pendekatan.

Penertiban boleh saja dilakukan.
Namun tanpa solusi ruang ekonomi yang nyata, operasi penertiban hanya akan menjadi rutinitas birokrasi: datang, bongkar, pergi—lalu masalah muncul kembali.

Kota yang kuat bukan kota yang berhasil membersihkan trotoarnya dari pedagang kecil.
Kota yang kuat adalah kota yang mampu menyediakan tempat bagi semua warganya untuk hidup.

1
2
TAMPILKAN SEMUA
Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Exit mobile version