Oleh : Ardhy M Basir
Di tengah geliat pariwisata yang kian mengarah pada pengalaman autentik, tradisi mappetu ada dari budaya Bugis menyimpan potensi besar untuk melampaui batasnya sebagai sekadar prosesi adat. Ia bukan hanya pertemuan dua keluarga, tetapi sebuah pertunjukan nilai, estetika, dan filosofi hidup yang layak diangkat menjadi ikon wisata budaya.
Mappetu ada, yang secara harfiah berarti “menetapkan kata” atau kesepakatan, adalah fase penting dalam rangkaian pernikahan adat Bugis. Di dalamnya, tersimpan dialog penuh kehormatan, simbol-simbol kesopanan, serta tata krama tinggi yang diwariskan lintas generasi. Semua berlangsung dalam suasana sakral namun hangat—perpaduan yang jarang ditemukan dalam tradisi modern.
Bayangkan sebuah ruang yang tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi menjelma menjadi destinasi rasa. Itulah yang terasa saat prosesi mappetu ada digelar di Ballroom Persik, Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Ahad, 5 April 2026. Ruang megah itu seolah berubah menjadi panggung budaya: dekorasi bunga segar berpadu dengan cahaya lampu gantung yang temaram, menciptakan suasana lembut yang memanjakan mata sekaligus menenangkan jiwa.
Sejak langkah pertama memasuki ruangan, tamu seakan diajak berwisata—bukan ke tempat yang jauh, tetapi ke dalam kekayaan tradisi itu sendiri. Setiap detail terasa berbicara: dari busana adat yang anggun, tata ruang yang berkelas, hingga ekspresi hangat para keluarga yang hadir.
Di tempat inilah, A. Abrar Dirgahayu, S.M, putra dari H. A. Rusdy Razak, SE dan Hj. Helmy Wahid, SH., M.H, secara resmi dipertemukan dalam prosesi adat untuk mempersunting Kartika, S.I.Kom, putri dari (alm) Suparman dan Sarawanti. Namun, peristiwa ini bukan sekadar kisah dua insan. Ia menjadi representasi bagaimana sebuah keluarga tetap teguh menjaga warisan leluhur di tengah arus modernitas.
Keluarga Hj. Helmy Wahid adalah salah satu contoh bagaimana nilai-nilai adat tetap dirawat dengan penuh kesadaran. Dalam setiap tahap prosesi, terlihat bahwa mappetu ada bukan sekadar formalitas, melainkan ruang untuk merawat kehormatan, mempererat silaturahmi, dan meneguhkan komitmen.
Di sinilah letak kekuatan mappetu ada sebagai potensi wisata budaya. Ia menawarkan sesuatu yang tidak bisa direplikasi oleh destinasi buatan: keaslian. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi untuk merasakan—menyaksikan langsung bagaimana budaya hidup dalam praktik, bukan sekadar dalam cerita.
Jika dikemas dengan baik, mappetu ada bisa menjadi atraksi budaya yang elegan dan edukatif. Hotel, gedung pertemuan, hingga ruang-ruang publik dapat bertransformasi menjadi “panggung budaya” yang mempertemukan tradisi dengan estetika modern. Ini bukan tentang mengubah makna, tetapi menghadirkan tradisi dalam kemasan yang lebih luas jangkauannya.
Lebih dari itu, mappetu ada mengajarkan bahwa pariwisata tidak selalu tentang tempat, tetapi tentang pengalaman. Dan pengalaman terbaik sering kali lahir dari akar budaya yang kuat.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, mappetu ada hadir sebagai pengingat: bahwa ada nilai-nilai yang tak lekang oleh waktu—tentang penghormatan, kesepakatan, dan kebersamaan. Ketika tradisi ini dirawat dan diperkenalkan dengan cara yang tepat, bukan tidak mungkin mappetu ada akan menjadi salah satu ikon wisata budaya Sulawesi Selatan yang membanggakan.

